TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Di sudut Indihiang, Kota Tasikmalaya, sebuah peninggalan peradaban Sunda kuno bertahan dalam kesunyian. Situs Lingga Yoni, yang terletak di Kampung Nagkerok, Kelurahan Sukamajukidul, kini seolah terjepit di antara kepentingan sejarah dan derap aktivitas penambangan pasir yang kian masif.
Di tengah suara mesin ekskavator dan debu yang beterbangan, situs sakral ini berdiri dalam kondisi memprihatinkan. Akses yang sulit, minimnya fasilitas, serta tekanan aktivitas industri memunculkan pertanyaan besar, sejauh mana komitmen menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.
Baca Juga: Joging Track dan Pesona Indah Situ Gede Kota Tasikmalaya
Simbol Kecerdasan Leluhur Sunda
Secara arkeologis, Lingga Yoni bukan sekadar batu purba. Situs ini menyimpan filosofi mendalam tentang keseimbangan alam dan kehidupan, yang tercermin dalam tiga struktur utama:
- Brahmabhaga, bagian dasar berbentuk segi empat
- Wisnubhaga, bagian tengah berbentuk segi delapan
- Siwabhaga, bagian puncak berbentuk bulat memanjang
Susunan ini menjadi bukti bahwa masyarakat Sunda di masa lampau telah memiliki pemahaman intelektual dan spiritual yang tinggi. Ironisnya, untuk mencapai situs tersebut saat ini, pengunjung harus menembus jalur terjal dan melintasi kawasan tambang milik swasta.
Kisah Sunyi Sang Penjaga Situs
Henli Yeni (52), juru kunci Situs Lingga Yoni, mengungkapkan betapa berat perjuangan menjaga warisan sejarah di tengah keterbatasan.
“Sekitar tahun 2017, akses sempat ditutup. Pengunjung bahkan harus menitipkan KTP hanya untuk masuk. Kami sering waswas kalau pulang menjelang sore karena penjaga tambang sudah tidak ada,” tutur Henli.
Meski kini akses sedikit terbuka, kondisi di lapangan masih jauh dari ideal. Penerangan jalan, jalur aman, hingga tempat istirahat bagi wisatawan belum tersedia.
DPRD Soroti, Tantangan Terbuka untuk Wali Kota
Keprihatinan juga datang dari Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Tasikmalaya, Asep Endang M. Syams. Ia menilai pembiaran terhadap Situs Lingga Yoni sama dengan mengabaikan identitas budaya masyarakat Sunda.
“Pemerintah daerah harus hadir. Ini bukan sekadar batu, ini jati diri urang Sunda,” tegas Asep saat meninjau lokasi.
Tak berhenti di situ, Asep melontarkan tantangan terbuka kepada Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, untuk merasakan langsung kondisi di lapangan. Ia mengajak Wali Kota melakukan jogging menuju Situs Lingga Yoni, sebagai simbol ajakan agar pemimpin daerah melihat dan merasakan sendiri sulitnya akses serta minimnya perhatian pemerintah.
Harapan dari Jejak Gunung Padang
Asep berharap Pemkot Tasikmalaya memiliki keberanian politik untuk memugar dan melindungi Situs Lingga Yoni, mencontoh keseriusan pelestarian Situs Gunung Padang di Jawa Barat.
“Situs Lingga Yoni adalah identitas. Jangan sampai sejarah kita terkubur debu tambang demi kepentingan ekonomi sesaat. Warisan apa yang akan kita tinggalkan jika hari ini kita abai?” ujarnya.
Kini, masa depan Lingga Yoni berada di persimpangan. Akankah situs ini bangkit sebagai pusat edukasi dan wisata sejarah, atau justru lenyap perlahan dalam kepungan aktivitas tambang.
(Abdul)


