BANDUNG,FOKUSJabar.id: Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung, Rasdian Setiadi, memberikan penjelasan terkait laporan TomTom Traffic Index yang menempatkan Bandung sebagai salah satu kota dengan tingkat kemacetan tinggi.
Ia menilai, penilaian tersebut perlu di lihat secara proporsional dan kontekstual.
Menurut Rasdian, kemacetan merupakan fenomena yang lazim terjadi di kota-kota besar. Terutama pada jam-jam sibuk. Tingginya volume kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan, ditambah keterbatasan infrastruktur serta berbagai hambatan lalu lintas, menjadi faktor utama kepadatan arus kendaraan.
Baca Juga: Penataan Kabel Udara Dikebut, Pemkot Bandung Targetkan Rampung 2026
“Kalau kota besar, rata-rata memang mengalami kemacetan. Penyebabnya beragam, mulai dari keterbatasan jalan hingga tingginya jumlah kendaraan,” ujar Rasdian, Jumat (23/1/2026).
Namun demikian, Rasdian menegaskan bahwa kondisi macet di Kota Bandung tidak berlangsung sepanjang hari. Kepadatan lalu lintas umumnya terjadi pada pagi hari. Terutama antara pukul 06.00 hingga 08.00 WIB, saat aktivitas masyarakat menuju tempat kerja dan sekolah.
“Di luar jam-jam tersebut, arus lalu lintas relatif normal. Tapi sering kali muncul anggapan bahwa Bandung selalu macet, padahal tidak sepenuhnya demikian,” jelasnya.
Ia memaparkan, titik-titik kepadatan tersebar di berbagai kawasan, baik di wilayah utara, timur, selatan, maupun barat kota. Untuk wilayah selatan, kemacetan kerap muncul pada jalur timur ke barat, seperti dari Cibiru menuju Cibeureum. Sementara dari arah barat, kepadatan sering terjadi pada akses Gunung Halu Cimahi menuju Bandung melalui kawasan Junjunan.
Selain itu, jalur-jalur timur kota seperti Cibiru, Cicaheum, hingga Antapani, termasuk jalan-jalan penyangga atau “sayap” lalu lintas, juga menjadi titik rawan kepadatan.
Pembenahan Infrastruktur
Rasdian menduga, data TomTom turut memasukkan kepadatan lalu lintas pada akhir pekan atau musim libur panjang. Khususnya di kawasan Pasteur hingga Lembang. Padahal, secara administratif, wilayah Lembang masuk Kabupaten Bandung Barat.
“Bisa jadi data tersebut ikut terakumulasi, meskipun Lembang bukan wilayah Kota Bandung,” katanya.
Sebagai langkah penanganan, Dishub Kota Bandung terus melakukan pembenahan infrastruktur jalan. Kemudian menerapkan rekayasa lalu lintas di titik rawan, serta mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum. Pengembangan sistem transportasi cerdas juga menjadi fokus, salah satunya melalui penerapan lampu lalu lintas berbasis kecerdasan buatan (AI).
“Itu bagian dari upaya kami untuk membuat pengaturan lalu lintas lebih adaptif dan efisien,” pungkas Rasdian.
(Yusuf Mugni)


