spot_img
Rabu 21 Januari 2026
spot_img

Wapres Gibran Rakabuming Payungi Kyai di Tengah Hujan

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Kunjungan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka ke Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Selasa (20/1/2026), menyisakan satu momen yang tak tercantum dalam agenda protokoler, namun justru paling membekas di ingatan ribuan santri.

Di tengah rintik hujan yang turun saat Wapres meninjau fasilitas pembelajaran robotik santri, sebuah sikap spontan memperlihatkan sisi personal pemimpin muda Indonesia tersebut. Alih-alih meminta ajudan memayunginya, Gibran justru mengambil payung hitam dan memegangnya sendiri.

Baca Juga: Lagu MBG Karya Musisi Tasikmalaya Digadang Jadi Theme Song Nasional

Yang membuat suasana menjadi hening penuh haru, Wapres kemudian mengajak KH Gus Deni R Sagara, Khodimul Majelis MDS Pesantren Cipasung, untuk berjalan bersama di bawah payung yang sama.

Sepanjang langkah menuju Aula Dom, Gibran memastikan sang kiai tetap terlindung dari hujan, sementara dirinya tetap berdiri di sisi luar.

“Beliau tidak mau di payungi, justru beliau yang memayungi saya. Ini bukan soal hujan, tapi tentang adab seorang pemimpin kepada ulama,” ungkap Gus Deni dengan mata berkaca-kaca.

Bagi lingkungan pesantren, sikap tersebut bukanlah perkara sepele. Gus Deni menilai tindakan Wapres mencerminkan nilai luhur yang telah lama diajarkan dalam tradisi keilmuan Islam. Ia mengaitkan peristiwa itu dengan ajaran dalam Kitab Maulid Ad-Diba’i karya Imam Abdurrahman ad-Diba’i.

“Segala sesuatu di dunia adalah isyarat. Kepemimpinan sejati adalah mengikuti teladan Rasulullah SAW, yang memuliakan guru dan ulama,” tuturnya.

Payung hitam yang digunakan Wapres hari itu pun dimaknai lebih dari sekadar alat pelindung hujan. Ia menjadi simbol tanggung jawab moral seorang pemimpin melindungi, mengayomi, dan menempatkan ulama sebagai penjaga nilai dan akhlak bangsa.

Gagasan Besar bagi Masa Depan Pesantren

Selain meninggalkan pesan keteladanan, kunjungan tersebut juga membawa gagasan besar bagi masa depan pesantren. Dalam dialognya dengan pengasuh dan santri, Wapres Gibran menegaskan pentingnya keseimbangan antara tradisi keilmuan klasik dan penguasaan teknologi modern.

Ia mendorong agar pesantren tetap kokoh sebagai pusat pembentukan adab, namun tidak tertinggal dalam perkembangan zaman. Harapannya santri tidak hanya mendalami kitab kuning, tetapi juga mampu menguasai teknologi digital, termasuk robotik dan inovasi sains.

“Pesantren sudah kuat dalam akhlak dan keilmuan agama. Tinggal bagaimana santri terus berkembang untuk berinovasi dan siap menghadapi tantangan masa depan,” ujar Gibran.

Bagi keluarga besar Pesantren Cipasung, kunjungan ini bukan sekadar agenda kenegaraan. Ia menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yang besar lahir dari kerendahan hati, dan kemajuan bangsa tidak boleh tercerabut dari nilai adab.

Sore itu, hujan mungkin membasahi halaman pesantren. Namun bagi ribuan santri, kehangatan justru hadir dari sikap sederhana seorang pemimpin yang memilih memuliakan ulama. Sebuah pesan tanpa kata, bahwa kekuasaan sejati bukan untuk ditinggikan, melainkan untuk melindungi dan menghormati.

(Abdul)

spot_img

Berita Terbaru