MAKASSAR, FOKUSJabar.id: Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo memastikan, pihaknya bakal melanjutkan pencarian delapan korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan.
“Kami masih memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan pencarian sisa korban yang belum ditemukan,” katanya di kutip kompas tv, Rabu (21/1/2026).
BACA JUGA:
Pramugari Pesawat ATR 42-500 Florencia Lolita Wibisono Ditemukan
Dia menyebut, upaya pencarian para korban menggunakan helikopter.
“Kami berusaha untuk menggunakan helikopter,” kata Bramantyo.
Pihaknya berharap, kondisi cuaca bisa mendukung. Sehingga pencarian para korban dapat terlaksana dengan baik.
Menurut Dia, pada pencarian sebelumnya dua jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 berhasil ditemukan.
Salah satunya sudah dibawa ke Posko DVI Biddokes Polda Sulawesi Selatan di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar, Selasa (20/1/2026).
Sedangkan satu jenazah lainnya, masih dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Sebelumnya FOKUSJabar mengabarkan, Florencia Lolita Wibisono, Pramugari pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan akhirnya di temukan.
Florencia Lolita Wibisono di temukan dalam kondisi mengenaskan. Dia tersangkut di pohon tepi jurang.
Pramugari pesawat ATR 42-500 ini di temukan tim relawan dan SAR, Senin (19/1/2026).
BACA JUGA:
Kemenhub Sebut Pesawat ATR 42-500 Laik Terbang
Jenazah pramugari berusia 32 tahun itu di temukan di kedalaman sekitar 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.
Anggota Tim Arai Sulsel, Saipul menjadi orang pertama yang menemukan korban kedua dari kecelakaan pesawat ATR 42-500.
Tubuh korban tampak tersangkut di sela dahan pohon pada lereng curam dan sebuah nametag yang masih melekat di pakaiannya.
Proses pencarian di lakukan dalam kondisi yang sangat menantang. Pasalnya di selimuti kabut pekat, hujan, jalur licin serta jarak pandang yang terbatas.
Saipul bergerak menyusuri area sekitar puing pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT).
Sekitar pukul 14.00 WITA, ia menemukan kejanggalan di lokasi yang berjarak kurang lebih 100 meter dari titik kepala pesawat.
“Korban kedua di temukan sekitar jam dua siang. Posisinya sekitar 100 meter sebelum titik kepala pesawat,” katanya.
(Bambang Fouristian)


