BANDUNG,FOKUSJabar.id: Kondisi kesejahteraan satwa di Bandung Zoo kembali menjadi sorotan. Lembaga pemerhati satwa Geopix menemukan dugaan indikasi stres pada sejumlah satwa usai melakukan kunjungan ke Bandung Zoo pada 14 Januari 2026 lalu.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati menyampaikan, bahwa kondisi beberapa satwa sangat memprihatinkan dan tidak boleh di abaikan.
Satwa yang di soroti antara lain orangutan, gajah, dan monyet hitam yang menunjukkan tanda-tanda gangguan kesejahteraan.
Baca Juga: Insinerator Dihentikan, Penumpukan Sampah Hiasi Kota Bandung
“Temuan di lapangan menunjukkan dugaan stres pada beberapa satwa kunci. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan dan tidak boleh di abaikan,” kata Annisa dalam keterangan tertulis yang di terima, Selasa (20/1/2026).
Menurutnya, pembukaan Bandung Zoo untuk pengunjung tidak di lakukan secara tergesa-gesa. Juga evaluasi menyeluruh terhadap kondisi satwa dan standar pengelolaan harus menjadi prioritas, terlebih di tengah konflik internal yang belum sepenuhnya tuntas.
“Kesejahteraan satwa harus menjadi syarat utama. Pemerintah Kota Bandung dan Kementerian Kehutanan perlu memastikan kebun binatang ini benar-benar layak sebelum kembali di buka,”ucapnya.
Sementara itu, Senior Biologist sekaligus Wildlife Curator Center for Orangutan Protection (COP) Indira Nurul Qomariah menyampaikan, berdasarkan pengamatan awal, ia menemukan indikasi gangguan kesehatan pada primata yang berpotensi berkaitan dengan stres.
“Kebotakan pada lengan dan kaki bawah orangutan maupun monyet hitam bisa di sebabkan oleh penyakit kulit, kekurangan nutrisi, atau stres akibat kebosanan dan perilaku kompulsif seperti overgrooming,” katanya.
Indira menjelaskan, bahwa faktor genetik seperti alopecia juga memungkinkan menjadi penyebab. Oleh karena itu, di perlukan pemeriksaan medis mendalam serta observasi perilaku lanjutan untuk memastikan diagnosis yang tepat.
Selain primata, perilaku gajah di Bandung Zoo juga menjadi perhatian. Indira menyebut salah satu gajah memperlihatkan perilaku stereotip berupa swaying atau gerakan berulang tanpa tujuan, yang kerap di kaitkan dengan kondisi stres pada satwa dalam penangkaran.
“Perilaku ini biasanya muncul akibat lingkungan yang kurang mendukung kesejahteraan satwa, seperti minimnya pengayaan atau tidak terpenuhinya kebutuhan sosial,”jelasnya.
Humas Bandung Zoo
Menanggapi hal tersebut, Humas Bandung Zoo, Sulhan Syafi’i, menegaskan, bahwa pengelola telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga kondisi satwa, termasuk pemberian terapi pengayaan secara rutin.
Baca Juga: Patuhi Arahan Mentri LH, DLH Kota Bandung Stop Oprasional Insinerator
“Kami memberikan variasi makanan setiap hari dan menempatkannya di lokasi yang berbeda agar satwa tetap aktif. Selain itu, kondisi satwa terus dipantau oleh dua orang dokter,”kata Sulhan.
Meski begitu, Sulhan mengaku bahwa keterbatasan lahan menjadi tantangan utama. Menurutnya, kebutuhan alami satwa di habitat liar sulit sepenuhnya di penuhi di area kebun binatang.
“Di alam, gajah bisa berjalan puluhan kilometer per hari dan orangutan membutuhkan kanopi pepohonan yang luas. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami,”ungkapnya.
(Yusuf Mugni)


