spot_img
Senin 19 Januari 2026
spot_img

Telolet Dilarang, Pelaku Wisata Situ Gede Tasikmalaya Keluhkan Turunnya Pengunjung

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Hari pertama penerapan larangan penggunaan klakson telolet di kawasan wisata Situ Gede menghadirkan suasana yang tak biasa. Senin (19/01/2026), danau yang selama ini identik dengan hiruk-pikuk suara klakson khas justru tampak lengang dan sunyi.

Perubahan drastis itu langsung dirasakan para pelaku usaha wisata, khususnya pemilik perahu. Sejak pagi hingga siang hari, perahu-perahu yang biasanya lalu lalang mengangkut wisatawan justru lebih banyak terparkir di tepi danau.

Baca Juga: Lebih dari 1.000 Kios Tutup, Pasar Cikurubuk Tasikmalaya di Ambang Krisis

“Biasanya hari kerja pun masih ada penumpang. Tapi hari ini sama sekali belum ada yang naik,” ujar salah satu pemilik perahu dengan raut kecewa.

Bagi pelaku usaha, telolet bukan sekadar hiburan, melainkan sarana promosi gratis. Fenomena telolet yang sempat viral di media sosial sebelumnya berhasil mendongkrak kunjungan wisatawan, termasuk dari luar daerah. Ketika suara itu dihentikan, minat pengunjung pun ikut meredup.

Namun di sisi lain, pemerintah menegaskan larangan tersebut bukan keputusan sepihak. Lurah Linggajaya, Hendri Suhendri, S.IP, menyatakan kebijakan itu merupakan tindak lanjut dari Perda Nomor 7 Tahun 2025 tentang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat.

Menurutnya, kebisingan telolet telah memicu banyak keluhan dari warga sekitar dan sebagian pelaku usaha lainnya. Selain itu, kesepakatan pembatasan penggunaan klakson yang sempat diberlakukan sebelumnya kerap dilanggar di lapangan.

“Tujuan kami jelas, menciptakan suasana wisata yang lebih nyaman, tertib, dan ramah bagi semua,” tegas Hendri.

Hiburan Alternatif Seperti Musik dan Karaoke

Sebagai langkah penyesuaian, pemerintah mendorong pemilik perahu untuk beralih menggunakan hiburan alternatif seperti musik atau karaoke yang dinilai lebih ramah lingkungan suara.

“Kami harap pelaku usaha bisa beradaptasi. Musik karaoke bisa menjadi pilihan agar wisatawan tetap terhibur tanpa mengganggu ketenangan,” ujarnya.

Ke depan, pemerintah juga berencana menata kawasan warung serta memperkuat produk UMKM khas Tasikmalaya agar daya tarik Situ Gede tidak hanya bergantung pada tren hiburan sesaat.

Kondisi ini memperlihatkan tantangan pengelolaan wisata di tengah tarik-menarik antara tren viral dan kenyamanan publik. Para pedagang berharap ada solusi yang adil, agar ketertiban tetap terjaga tanpa mengorbankan sumber penghidupan mereka.

(Abdul)

spot_img

Berita Terbaru