PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Cuaca ekstrem kembali menghantam wilayah perairan Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Gelombang tinggi yang disertai angin kencang dan kabut tebal membuat sebagian besar nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut demi keselamatan.
Sejak Minggu pagi (18/1/2026), kondisi laut dinilai tidak bersahabat. Kawasan zona tangkap ikan tertutup kabut pekat, sementara hujan dan angin kencang terus melanda. Akibatnya, puluhan perahu nelayan terlihat terparkir di pesisir tanpa aktivitas.
Baca Juga: Ada Suara Dentuman di Goa Kabuyutan Sebelum Tsunami Pangandaran
Tokoh nelayan Pangandaran, Sakio, menyebut situasi ini tak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga berdampak langsung pada penghasilan nelayan. Banyak di antara mereka yang pulang ke rumah tanpa membawa hasil tangkapan.
“Sejak pagi kondisi di laut cukup ekstrem. Angin kencang, hujan, dan kabut tebal menutupi area tangkap,” ujar Sakio kepada FOKUSJabar.id melalui pesan WhatsApp.
Meski demikian, masih ada nelayan yang nekat melaut di tengah kondisi berisiko tersebut. Namun, perjalanan pulang menjadi tantangan tersendiri karena jarak pandang terbatas dan ombak yang tidak bersahabat.
“Beberapa nelayan sempat kesulitan kembali ke daratan. Alhamdulillah semuanya selamat dan tidak ada mesin perahu yang mengalami kerusakan,” jelasnya.
Sakio menambahkan, kondisi ini sangat kontras dengan beberapa hari sebelumnya. Pada pertengahan pekan lalu, nelayan Pangandaran sempat menikmati hasil laut yang melimpah, terutama ikan layur, bawal putih, dan tenggiri.
“Hari ini banyak yang zonk, berbeda dengan Rabu, Kamis, dan Sabtu kemarin saat tangkapan cukup banyak,” katanya.
Memasuki musim angin barat, Sakio mengimbau seluruh nelayan agar mengutamakan keselamatan dibanding memaksakan diri melaut. Ia menekankan pentingnya pengecekan mesin perahu serta kelengkapan alat keselamatan sebelum berangkat.
“Keselamatan adalah yang utama. Pastikan mesin dalam kondisi baik dan selalu membawa pelampung atau life jacket,” pungkasnya.
(Sajidin)


