spot_img
Minggu 18 Januari 2026
spot_img

Somah dan Orang Dalam Mainkan Alat Musik yang tak Lazim

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Dari sisi Jalan Cibeunying Kota Bandung Jawa Barat (Jabar) bunyi musik yang tak lazim di mainkan Somah dan Orang Dalam.

Instrumen yang di mainkan bukan gitar pada umumnya. Melainkan benda-benda sederhana yang di sulap menjadi alat musik. Sehingga mencuri perhatian.

Ada bas dari sekop, perkusi dari papan sese, hingga ukulele berbahan kaleng lem yang berpadu menciptakan irama unik.

BACA JUGA:

Inara Rusli Desak Mawa Berikan Status Pernikahan, Bercerai atau Poligami?

Penampilan tersebut membuat banyak orang spontan berhenti sejenak untuk menyaksikannya.

Mereka adalah Somah dan Orang Dalam, kelompok musik asal Bandung yang mengenalkan diri sebagai rombongan pop sirkus.

Dengan konsep pertunjukan yang berbeda dari band kebanyakan, mereka menghadirkan musik yang tak hanya menghibur. Namun juga merekam potongan-potongan cerita kehidupan sehari-hari yang dekat dengan pengalaman banyak orang.

“Kalau misalnya orang belum tahu band ini, kita sebut saja rombongan pop sirkus. Karena kami meyakini musik Somah itu pasti di sukai banyak orang di mana dan kapan pun,” kata Gugun vokalis Somah dan Orang Dalam, Sabtu (17/1/2026) malam.

Istilah “rombongan” sengaja di pilih. Bagi Gugun, konsep sirkus lebih menekankan pada hiburan dan pertunjukan.

Menurutnya, musik bukan hanya soal bunyi, tetapi juga soal tontonan. Hal itu tercermin dari instrumen-instrumen yang di gunakan Somah dan Orang Dalam yang jauh dari kata konvensional.

Gugun sebagai vokalis turut memainkan gitar dari baki gorengan. Bejo memetik bas berbahan sekop. Fuad dan Imel mengisi perkusi dengan washboard dan papan sese. Sementara Edo memainkan ukulele dari kaleng lem. Bahkan, beberapa elemen drum dibuat dari komponen bekas seperti drum oli.

BACA JUGA:

Heboh! Julia Prastini buka Hijab dan ke Bali Bareng Jefri Nichol

“Musik bagus itu sudah banyak. Tapi yang otentik dan punya karakter itu jarang. Makanya kami lebih menjual ‘tagog’ ketagihan dari pertunjukannya,” kata Dia.

Somah dan Orang Dalam terbentuk pada akhir 2023, saat pandemi Covid-19 mulai mereda.

Awalnya, band ini hanya beranggotakan dua orang (Gugun dan Fuad). Namun seiring berjalannya waktu, mereka mulai sering diminta tampil di panggung-panggung yang lebih besar.

“Kalau cuma gitar sama papan sese, rasanya bakal cringe,” tutur Gugun.

Dari situ, mereka mulai mengajak personel lain untuk bergabung, hingga terbentuk formasi yang sekarang.

Meski instrumennya terlihat tidak lazim, Gugun menegaskan bahwa secara musikal Somah dan Orang Dalam tetap bekerja seperti band pada umumnya.

“Sebenarnya kan tetap ada gitar, bas, ukulele. Yang beda cuma looks-nya. Secara permainan, harmoni itu tetap terjadi,” ujarnya.

Saat ini, Somah dan Orang Dalam tengah bersiap merilis album perdana bertajuk Untuk Kalangan Terbatas. Album tersebut dijadwalkan meluncur setelah Lebaran 2026.

Proses pengerjaannya memakan waktu hampir satu tahun, sejak awal 2025 hingga rampung pada Desember 2025.

Pertunjukkan awal yang dilakukan di pinggir jalan kawasan Cibeungying, Kota Bandung, bukan sekadar latihan biasa. Lokasi tersebut dipilih sebagai bagian dari strategi promosi sekaligus debut lagu-lagu baru mereka ke publik.

“Kita lihat ruas jalan ini ramai. Banyak orang lewat. Kita juga pengin merangkul atensi orang,” kata Gugun.

Apalagi, lokasi tersebut berada di dekat kedai kopi pinggir jalan, sehingga penonton datang bukan hanya dari pengunjung, tetapi juga dari pengendara yang melintas.

Dalam waktu dekat, Somah dan Orang Dalam berencana tampil di sejumlah titik lain.

Sementara ini, wilayah Jawa Barat menjadi fokus utama. Mereka sengaja memilih ruang-ruang publik yang “merakyat”, bukan kafe atau tempat yang terlalu eksklusif.

BACA JUGA:

Tetap Stylish di Musim Hujan, 7 Tips Outfit Anti Ribet di Cuaca Ekstrem

“Random orang jalan bisa lihat kami. Itu yang kami cari,” ujarnya.

Soal genre, Gugun dengan lugas menyebut musik mereka sebagai pop.

“Pop aja. Karena kami pengin populer dan banyak uang,” kelakarnya.

Namun, lirik-lirik yang mereka bawakan justru mengangkat cerita keseharian yang sederhana dan jujur.

Mulai dari keluhan pekerja, pertemanan yang tak dibayar, hubungan yang patah, hingga dinamika hidup sehari-hari.

Inspirasi tersebut kemudian dirangkai menjadi satu album yang utuh.

Album Untuk Kalangan Terbatas juga memiliki keunikan lain. Selain menggunakan dua bahasa Indonesia dan Sunda, Somah dan Orang Dalam menyisipkan potongan hook dari lagu-lagu populer yang sudah dikenal luas.

Di antaranya lagu-lagu milik Titi DJ, JKT48, hingga karya-karya lain yang akrab di telinga masyarakat.

Namun di balik kemasan hiburan dan kesan jenaka, dikatakan Gugun, album ini menyimpan pesan yang cukup dalam.

Salah satu lagu berjudul Senang-senang justru membahas tentang kematian.

“Seringkali kita terbuai dengankehidupan, sibuk sama urusan duniawi sampai lupa kita akan berpulang,” ujar Gugun.

Ia mengakui ada unsur dakwah dalam karya mereka, meski disampaikan dengan cara yang santai.

“Biar ingat mati aja. Kalau musisi lain naikin spirit orang, kami malah sedikit ‘menurunkan’ dengan mengingatkan kematian,” katanya.

Nama Somah dan Orang Dalam sendiri memiliki sejarah panjang. Awalnya, Gugun dan Fuad menggunakan nama Somah and The Falster.

Kendati demikian, nama tersebut kerap salah disebut oleh pembawa acara di berbagai panggung.

“Ribet. MC suka salah nyebut,” ujar Gugun.

Akhirnya, pada awal 2024, mereka memutuskan mengganti nama menjadi Somah dan Orang Dalam.

“Karena hidup ini tanpa orang dalam, kita enggak bisa hidup,” kelakarnya.

Pergantian nama itu juga beriringan dengan masuknya personel baru dan semakin solidnya konsep band. Kini, Somah dan Orang Dalam memperkuat barometer musik dari Kota Kembang.

(Alpin Septian)

spot_img

Berita Terbaru