spot_img
Kamis 15 Januari 2026
spot_img

Kota Bandung Hadirkan Puskesmas 24 Jam Terintegrasi Adminduk

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung resmi meluncurkan layanan Puskesmas 24 Jam Bandung Utama sebagai upaya meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan primer bagi masyarakat.

Salah satu keunggulan layanan ini adalah integrasi pelayanan kesehatan dengan administrasi kependudukan. Warga yang melahirkan di puskesmas kini dapat langsung memperoleh dokumen kependudukan secara otomatis, mulai dari akta kelahiran, Kartu Identitas Anak (KIA), hingga pembaruan Kartu Keluarga.

Peresmian di lakukan langsung oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dalam kegiatan peluncuran yang di pusatkan secara luring di Puskesmas Ibrahim Adjie serta di ikuti secara daring dari Puskesmas Garuda, Kamis (15/1/2026).

Baca Juga: Suhu Udara di Bandung Lebih Dingin, Ini Penjelasan BMKG

Pada tahap awal, dua puskesmas tersebut langsung beroperasi penuh selama 24 jam. Selanjutnya, layanan ini akan di perluas ke lima puskesmas lainnya.

Farhan mengatakan, bahwa keberadaan puskesmas 24 jam merupakan kebutuhan mendesak bagi kota besar seperti Bandung, bukan sekadar pemenuhan janji kampanye.

“Layanan kesehatan adalah bagian dari Standar Pelayanan Minimal yang wajib di penuhi pemerintah daerah. Dan standar itu dari waktu ke waktu harus semakin tinggi,”kata Farhan.

Farhan berharap, puskesmas 24 jam dapat menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan, sehingga masyarakat tidak harus langsung menuju rumah sakit saat mengalami kondisi darurat.

Dengan skema Jaminan Kesehatan Nasional dan Universal Health Coverage (UHC), warga di dorong memanfaatkan fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama sebelum di rujuk ke rumah sakit.

Terdapat Kesenjangan Sosial

Farhan juga mengaitkan penguatan layanan kesehatan dengan kualitas pembangunan ekonomi Kota Bandung. Meski pertumbuhan ekonomi di proyeksikan mencapai 5,3 persen, ia mengakui masih terdapat kesenjangan sosial dan kesehatan yang perlu di tangani secara serius.

“Jumlah penduduk miskin memang menurun dan tingkat pengangguran terbuka berkurang. Namun kualitas kemiskinan justru memburuk. Fenomena yang miskin makin miskin dan yang kaya makin kaya masih terjadi,”ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut pelayanan publik yang lebih presisi dan berbasis karakteristik wilayah. Keberagaman kondisi tiap wilayah harus menjadi dasar dalam perencanaan layanan, termasuk sektor kesehatan.

Dengan dukungan Program Prakarsa dan pendataan sensus hingga tingkat RW yang telah mencapai 100 persen, Pemkot Bandung kini memiliki basis data untuk mengidentifikasi kebutuhan riil masyarakat, mulai dari sanitasi, rumah tidak layak huni, hingga prevalensi penyakit seperti diare, TBC, dan stunting.

“Puskesmas 24 jam ini adalah bagian dari penyelesaian masalah mendasar. Kita selesaikan dulu ‘skin care’-nya sebelum make up dan lipstik,”ucapnya.

Baca Juga: Bandung bjb Tandamata Siap Tancap Gas di Seri Perdana Proliga 2026

Komitmen Dinas Kesehatan

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Sony Adam mengatakan, Puskesmas 24 Jam merupakan bentuk komitmen Dinas Kesehatan dalam menghadirkan layanan kesehatan yang lebih responsif.

“Hari ini kita launching di Puskesmas Ibrahim Adjie dan Puskesmas Garuda. Selanjutnya, insyaallah akan menyusul lima puskesmas lainnya,” kata Sony.

Sony menyebut, Lima puskesmas yang di rencanakan menyusul adalah Puskesmas Pagarsih, Kopo, Padasuka, Cipadung, dan Cipamokolan. Model layanan pada tahap awal akan menjadi prototipe sebelum di replikasi di lokasi tersebut.

Sony juga memastikan, Puskesmas Ibrahim Adjie telah bekerja sama dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, sehingga seluruh proses administrasi bagi ibu melahirkan dapat langsung di layani di puskesmas.

(Yusuf Mugni)

spot_img

Berita Terbaru