spot_img
Kamis 15 Januari 2026
spot_img

Bencana Alam Aceh: 49.800 KK Tertahan di Tenda Pengungsian

ACEH, FOKUSJabar.id: Hingga pertengahan bulan Januari 2026, kondisi pascabencana banjir dan longsor yang melanda Aceh masih menyisakan duka mendalam.

Mengutip jurnalaceh.com, data terbaru dari Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, sedikitnya 155.193 jiwa atau sekitar 49.800 Kepala Keluarga (KK) hingga kini masih tertahan di tenda-tenda pengungsian.

BACA JUGA:

Banjir Tangerang Meluas ke 24 Kecamatan, Status Darurat Bencana

Juru Bicara Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, Murthalamuddin mengatakan, para pengungsi tersebar di 988 titik lokasi yang mencakup berbagai kabupaten dan kota di seluruh Aceh.

Berdasarkan laporan terbaru pada Rabu (14/1/2026), berikut adalah sebaran pengungsi di wilayah terdampak:

Aceh Utara: 67.876 jiwa (Wilayah paling terdampak)

Aceh Tamiang: 26.040 jiwa

Gayo Lues: 19.906 jiwa

Pidie Jaya: 14.794 jiwa

Aceh Timur: 8.507 jiwa

Aceh Tengah: 8.021 jiwa

Bireuen: 5.895 jiwa

Sisanya tersebar di Bener Meriah, Nagan Raya, Lhokseumawe, hingga Kabupaten Pidie dengan jumlah bervariasi.

Kerusakan Rumah Mencapai 148 Ribu Unit

Bencana alam ini tidak hanya memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Namun juga menghancurkan infrastruktur pemukiman.

Murthala memaparkan data kerusakan rumah warga yang mencapai total 148.819 unit.

Rusak Berat: 29.755 unit

Rusak Sedang: 40.114 unit

Rusak Ringan: 64.740 unit

Hilang/Hanyut: 1.942 unit

Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Aceh bersama instansi terkait sedang memprioritaskan pembangunan Hunian Sementara (Huntara).

Langkah tersebut di ambil sebagai solusi jangka pendek agar warga tidak terlalu lama berada di tenda pengungsian yang kurang layak.

BACA JUGA:

Pembangunan Huntap di Aceh Tamiang Dimulai

“Pemerintah terus berupaya memastikan pemulihan berjalan bertahap. Saat ini kita pacu Huntara sembari menyiapkan pembangunan Hunian Tetap (Huntap) yang lebih aman,” kata Murthalamuddin.

Target utamanya adalah memastikan masyarakat terdampak dapat kembali hidup normal dengan kondisi hunian yang layak dan memadai.

(Bambang Fouristian)

spot_img

Berita Terbaru