spot_img
Senin 5 Januari 2026
spot_img

Jejak Air Ajaib Situ Cipanten Desa Gunungkuning Majalengka

MAJALENGKA, FOKUSJabar.id: Kaki Gunung Ciremai tersimpan sebuah cerita tentang keteguhan alam dan tangan dingin warga Desa Gunungkuning Kecamatan Sindang Kabupaten Majalengka Jawa Barat (Jabar).

Lahan seluas 2,5 hektar di Desa Gunungkuning kini telah bertransformasi total.

BACA JUGA:

Pemkab Majalengka Ajak Jurnalis Edukasi Publik tentang Bahaya Rokok Ilegal

Dulu, hanya areal sawah yang sepi dan jarang terjamah. Namun kini, lokasi tersebut menjadi denyut nadi ekonomi yang menghidupi warga desa Gunungkuning.

Di lokasi tersebut terdapat 7 mata air dengan debit yang sangat besar. Karenanya mampu mengairi ribuan hektar sawah yang tersebar di beberapa Kecamatan.

Paa tahun 1970-an, Pemerintah Desa Gunungkuning melakukan penataan dengan membangun bendungan di areal pesawahan. Kini disebut dengan Situ Cipanten.

Keajaiban 7 Mata Air yang Tak Pernah Ingkar Janji

​Situ Cipanten bukanlah sekadar danau biasa. Di dalamnya terdapat tujuh sumber mata air dengan debit raksasa yang mengairi ribuan hektar sawah.

Nama “Cipanten” memiliki arti yang mendalam bagi warga lokal. Yakni, airnya tidak pernah berkurang sekalipun saat kemarau panjang.

Air Situ Cipanten tetap jernih dan tak sedikit pun surut. Namun, kecantikan ini dulunya tersembunyi di balik kesan angker.

BACA JUGA:

Gubernur Jabar Dampingi Presiden Panen Raya Padi di Majalengka

“Dulu tidak ada warga yang berani datang ke sini. Paling hanya beberapa orang saja,” kenang Kepala Desa Gunungkuning, Rudi Yudistira Gozali.

Dari “Angker” Menjadi Wisata Unggulan

​Titik balik terjadi pada tahun 2016. Berawal dari inisiatif Karang Taruna yang melakukan penataan. Setahun kemudian kawasan ini resmi ditetapkan sebagai destinasi wisata alam.

​Kombinasi antara udara kaki gunung yang sejuk, hutan yang masih “perawan” dan kejernihan air yang bak cermin menjadi nilai jual yang tak tertandingi.

Hasilnya nyata, pada tahun 2025 Situ Cipanten mencatatkan prestasi gemilang dengan menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes) mencapai Rp2,5 Milyar.

BACA JUGA:

Tangan Dingin Rudi Yudistira Mengalirkan Berkah Situ Cipanten jadi Desa Mandiri

​Obsesi Ikan Koi

​Meski telah sukses, Rudi Yudistira Gozali belum ingin berhenti bermimpi. Ada satu ganjalan yang kerap mengusik pikirannya setiap kali menatap beningnya air Cipanten. Dia terbayang Ikan Koi.

​Rudi membayangkan, betapa indahnya jika Situ Cipanten dihuni oleh ribuan ikan Koi berkualitas tinggi.

Perpaduan air kristal dengan warna-warni ikan Koi yang menari di bawah permukaan air diyakini akan memberikan sensasi kedamaian yang luar biasa bagi wisatawan.

BACA JUGA:

Penyerahan Sertifikat Tanah dan Peresmian Kampung Reforma Agraria di Majalengka

​”Mimpi saya adalah melihat pengunjung berinteraksi dengan ribuan ikan Koi berkualitas. Itu akan menjadi pemandangan yang tak terlupakan di tingkat nasional bahkan internasional,” ungkap Rudi.

​Mewujudkan mimpi “Istana Koi” ini bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Jumlahnya bisa mencapai milyaran rupiah.

Rudi hanya bisa berikhtiar dan berdoa agar potensi alam Desa Gunungkuning yang diberkahi ini mendapat dukungan lebih luas.

​Situ Cipanten bukan sekadar tempat wisata. Ini adalah simbol bagaimana sebuah desa bisa mandiri jika mampu menjaga dan mengelola titipan alam dengan bijak.

(Abdul)

spot_img

Berita Terbaru