BANDUNG, FOKUSJabar.id: Komunitas Olahraga Tradisional Indonesia (KOTI) berubah menjadi Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) berdasarkan hasil Musyawarah Nasional (Munas) KOTI pada 17 Oktober 2019 lalu. Perubahan ini pun secara otomatis mengubah struktur dan susunan organisasi hingga ruang lingkupnya.
Ketua Umum KPOTI Jabar, Nandang Saptari menuturkan, perubahan dari sisi organisasi olahraga tradisional salah satunya dari struktur organisasi. Dengan perubahan tersebut, personil kepengurusan dari KPOTI sendiri dipastikan lebih gemuk dibandingkan KOTI.
“Ini karena ruang lingkupnya tidak hanya olahraga tradisional, tapi juga permainan masyarakat yang jumlahnya mencapai ratusan di Indonesia,” ujar Nandang saat ditemui di sekretariat KPOTI Jabar, Jalan Arcamanik Kota Bandung, Rabu (8/1/2020).
Baca Juga: Bea Cukai Musnahkan Barang Sitaan Rugikan Negara Rp2,1 milyar
Dalam penerapan perubahan tersebut, lanjutnya, KPOTI Jabar ditunjuk menjadi percontohan bagi kepengurusan KPOTI di Indonesia. Hal ini didasarkan pada keberadaan organisasi KOTI di Provinsi Jabar hingga ke tingkat kota/kabupaten.
“Kita sudah mendapat mandat dari (KPOTI) pusat untuk menyiapkan struktur organisasi baru KPOTI yang akan menjadi acuan bagi setiap provinsi dan kota/kabupaten. Jabar sendiri saat ini sudah memiliki 24 kepengurusn KOTI di tingkat kota/kabupaten yang akan diubah menjadi KPOTI kota/kabupaten,” terangnya.
Dalam kepengurusan KPOTI Jabar berdasarkan perubahan tersebut, lanjut Nandang, pihaknya akan menggandeng berbagai stakeholder terkait. Mulai dari jajaran eksekutif, oganisasi perangkat daerah, organisasi kepemudaan, hingga para pegiat olahraga tradisional dan permainan masyarakat.
Perubahan dari KOTI menjadi KPOTI sendiri, diakui Nandang membuat cakupan dan sasaran semakin luas. Tidak hanya dibawah Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), tapi juga bisa menyasar Dinas Pendidikan (Disdik), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), hingga Badan Ekonomi Kreatif (Barekraf).
“Cabang olahraga tradisional dan permainan masyarakat di KPOTI ini bisa menyisir kalangan sekolah untuk berolahraga sekaligus melestarikan cabang olahraga dan permainan masyarakat. Kegiatan KPOTI pun bisa menjadi daya tarik wisata sekaligus mendorong industri kreatif memproduksi peralatan bagi olahraga tradisional maupun permainan masyarakat,” tuturnya.
Saat ini, cabang olahraga tradisional yang berada di naungan KPOTI berjumlah 11 cabang olahraga diantaranya hadang, tarompah panjang, sumpitan, egrang, dan dagongan. Sedangkan untuk permainan masyarakat berjumlah ratusan jenis yang diantaranya seperti permainan hong, layang-layang, gasing/panggal, dan gatrik.
“KPOTI ini kedepan akan seperti KONI yang memiliki kepengurusan cabang olahraga di tingkat pusat, provinsi hingga kota/kabupaten, selain kepengurusan KPOTI yang juga berjenjang dari level pusat, provinsi, hingga kota/kabupaten. Bukan tidak mungkin, kedepan, KPOTI juga akan memiliki gelaran multieven yang berjenjang layaknya olahraga umum seperti Porda dan PON karena untuk level internasional sendiri sudah ada,” pungkasnya.
(Ageng/Deni)



