spot_imgspot_img
Selasa 7 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Nama Ciamis Miskin Makna Kembalikan Ciamis Jadi Galuh

CIAMIS, FOKUSjabar.id: Juru Bicara Galuh Sadulur Sunda Saamparan R Hanif Radinal mengungkapkan, ada beberapa alasan mengapa perubahan nama Ciamis kembali ke Galuh.

Nama Ciamis, dipandang miskin filosofi. Nama tersebut disematkan oleh Bupati Galuh asal Cirebon atas perintah pemerintah Belanda.

“Sebetulnya bukan mengganti melainkan mengembalikan dari nama Ciamis ke Galuh. Saya kira nama galuh akan berdampak positif terhadap psikologi masyarakat. Nama Ciamis yang kering makna filosofis menurut dia akan berdampak secara psikologis terhadap masyarakatnya sehingga sulit berkembang,” katanya.

BACA JUGA:

PPDB 2024/2025, Disdik Kota Bandung: Semua Sekolah Sama

Sampai sekarang pun, lanjutnya, belum ada kejelasan makna apakah yang dimaksud amis dengan makna sunda berari manis, atau amis dalam bahasa Indonesia yang berarti hanyir. Hal bertolak belakang dengan Galuh yang sarat makna positif serta filosofis. Galuh selalu dikaitkan galeuh nin galih.

Dengan demikian acara Mieling Ngadegna Galuh diharapkan jadi momen untuk mengingat kembali Kerajaan Galuh yang berdiri pada tahun 612 Masehi. Acara ini sempat vakum, dan perlu jadi agenda rutin setiap tahun. “Salah satu tujuannya yakni kembali menumbuhkan sekaligus membangkitkan semangat kegaluhan. Galuh bisa menjadi jatidiri bangsa. Sejarah merupakan jatidiri bangsa, sehingga jangan sampai dilupakan,” katanya yang didampingi Dedi Bratamanggala dari Laboratorium Sejarah Adiluhung Nusantara Universitas Indonesia.

Ketua DPRD Ciamis, Nanang Permana mengaku mendukung munculnya wacana pengembalian nama Ciamis jadi Galuh. Semangat untuk mengubah nama tersebut sudah muncul sejak beberapa tahun lalu. Salah satu momentum untuk mengembalikan nama tersebut bersamaan dengan adanya pemekaran Ciamis dengan berdirinya Kabupaten Pangandaran.

“Sebenarnya sempat ada momentum yang tepat mengubah nama itu, yakni ketika revisi Undang-undang akibat adanya pemekaran Pangandaran menjadi daerah otonom baru. Saat itu dapat sekaligus diikuti dengan perubahan nama menjadi Kabupaten Galuh. Namun sayang ketika itu usulan tersebut luput,” kata Nanang.

Dia menyatakan nama Galuh itu sarat makna yang tersurat maupun tersirat, serta menjadi filosofi Galuh. Diantaranya memuat purbasiti dan purbajati akan menjadi imperium nilai-nilai dalam tatanan kehidupan masyarakat.

“Masanya bangkitkan kembali nilai-nilai “Kegaluhan”, sebagai jatidiri dan budaya masyarakat. Ingat sebuah nama memuat suatu nilai, makna dan ruh. Sehingga nama merupakan sesuatu yang sangat berarti,” katanya.

(husen maharja/DAR)

spot_img

Berita Terbaru