spot_imgspot_img
Minggu 5 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Puluhan Tahun Mengayam Demi Bertahan Hidup

TASIKMALAYA, FOKUSJabar.id: Engkar (60) dan Emeh (82) yang merupakan warga Kampung Sukarindik RT 001 RW 007 Desa Sukanagalih Kecamatan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya masih bertahan sebagai perajin anyaman.

Diusianya yang sudah cukup umur ini, setiap harinya sambil mengisi waktu luang mereka masih bersemangat menganyam membuat beberapa kerajinan tangan berupa topi dan tas.

Engkar (60) mengaku sudah sejak SD belajar menganyam. Dia menganyam membuat topi dari bahan pucuk panama dan daun pandan. Kala itu sekitar tahun 70 an dia menjual kerajinan topi itu sebesar Rp 250. “Sejak dulu saya sudah belajar menganyam. Lumayan buat nambah-nambah untuk membantu orang tua,” ujarnya kepada Wartawan Kamis (27/09/18).

Sampai saat ini, kata dia, setiap harinya terus membuat kerajinan. Dia pun kini bergabung dengan BUMDes Berdikari Desa Sukanagalih Kecamatan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya. Dia hanya menunggu menerima bahan-bahan untuk membuat kerajinan anyaman topi dan tas dari BUMDes.

Hal itu berbeda dengan sebelumnya, dia harus membeli bahan-bahan dengan modal sendiri. Sekarang bahan-bahan semua dari BUMDes, dan tidak harus beli bahan tinggal membuat saja.
“Alhamdulillah sekarang mah senang sudah disediakan sama BUMDes dan sangat terbantu. Sekarang sudah habis bahan, tersedia lagi. Dulu mah harus beli lagi ke pasar dan harus mikirin ongkos,” ungkapnya.

Dalam satu hari dia bisa membuat 4 buah tas bahan mendong, dan 2 buah tas bahan panama. Sementara untuk topi satu hari bisa membuat 1 hingga 2 buah topi bahan panama, sementara dari bahan mendong bisa samapai 3 buah. Diaman tas dan topi tersebut dibuatkan motif. Setiap sudah membuat 10 anyaman, ia langsung berikan ke BUMDes.

Upah yang dia terima bisa mencapai Rp 20 hingga Rp 25 ribu per buahnya. Sementara sebelumnya ketika membeli bahan sendiri bisa menjual topi dan tas sebesar Rp 30 hingga Rp 40 ribu per buahnya.
Dia mengaku bersyukur, upah hasil dari membuat anyaman itu bisa dia tabungkan dan sebagiannya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. “Alhamdulillah ke 3 anak saya bisa sekolah dengan dibiayai hasil dari kerajinan anyaman ini,” kata dia.

Sementara, Emeh (82) salah satu perajin anyaman topi yang sudah puluhan tahun ini menyebutkan sudah sejak jaman belanda ia menganyam topi. Ketika dulu ia menjualnya sebesar Rp 5.

Namun kini hasil kerajinan yang ia buat, langsung dijual ke bandar sebesar Rp 12 ribu, dari dulu hingga sekarang, dia hanya membuat kerajinan topi. Dalam satu hari ia hanya mampu membuat 1 topi, namun terkadang juga sampai 3 hari baru selesai 1 topi”Nenek mah suka dikumpulkan dulu sampai 5 topi, kalau sudah terkumpul baru dijual, soalnya dijual satu-satu mah kecil dapat uangnya, jadi mending dikumpulin dulu,”ucapnya.

Nenek yang sudah cukup umur ini, kini harus menjadi tulang punggung keluarga. Suaminya kini sudah tidak bekerja, selain mengurus suami ia pun memanfaatkan waktu sambil menganyam.

(Seda/DAR)

spot_img

Berita Terbaru