TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Masyarakat Desa Cibalanarik, Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya kembali menggelar tradisi warisan leluhur Ngalokat Cai. Prosesi adat ini berlangsung meriah di kawasan Situ Sanghiyang, Selasa (20/10/2026).
Tradisi tahunan ini menjadi wujud rasa syukur atas ketersediaan air bersih di tengah ancaman kemarau panjang. Ritual ini juga membawa pesan ekologis penting untuk menjaga kelestarian sumber mata air hulu.
Baca Juga: Pemkot Tasikmalaya Kucurkan Rp100 Juta Sokong Kelinci Pedaging
Ribuan warga memadati pinggiran Situ Sanghiyang sejak pagi hari. Tokoh masyarakat, sesepuh adat, hingga ratusan pelajar antusias menyaksikan rangkaian acara.
Seni penyambutan Lengser, tari Jaipongan, serta pertunjukan Lais menyemarakkan pembukaan gelaran budaya ini.
Bupati Tasikmalaya Tanam Pohon dan Tebar Ribuan Benih Ikan
Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin bersama jajaran Forkopimda turun langsung menanam puluhan bibit pohon. Penanaman pohon di sepanjang tepi danau ini memperkuat daerah resapan air kawasan Situ Sanghiyang.
“Ini sebagai bentuk tradisi kita untuk menjaga dan merawat masyarakatnya, alamnya, serta sungainya,” ujar Cecep Nurul Yakin di lokasi acara.
Cecep menegaskan bahwa tradisi Ngalokat Cai mengajarkan filosofi pemeliharaan alam yang berkelanjutan.
“Ngalokat Cai mengingatkan kita untuk menjaga hutan, sungai, dan kampung. Jika perilaku kita benar dan memperlakukan alam secara bijak, maka alam akan menjaga kita. Hutan dijaga dan pohon ditanami agar mata air tetap lestari,” tambah Cecep.
Puncak acara mengusung prosesi pengambilan air jernih dari titik tengah danau menggunakan rakit bambu. Pejabat daerah menyiramkan air sakral tersebut di area makam leluhur Eyang Prabu Linggawastu.
Petugas juga menebar ribuan bibit ikan nila, emas, serta nilem ke dalam danau untuk mendukung ketahanan pangan lokal.
Warga Khawatirkan Dampak Perubahan Iklim Pada Debit Air
Ketua Panitia Ngalokat Cai Asep Zamzam menyebut tradisi ini sebagai ikhtiar holistik menjaga lingkungan hulu.
“Kita menjaga alam dengan berbuat nyata untuk alam: menanam pohon, menebar ikan, dan memohon petunjuk kepada Allah SWT,” jelas Asep.
Meskipun danau masih menyimpan air, warga sekitar mulai mencemaskan dampak kemarau yang makin panjang. Dedi, seorang Ketua RT lokal, menyoroti penyusutan air danau yang tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Dulu kemarau panjang pun air tidak pernah surut seperti ini. Sekarang baru tujuh bulan saja sudah menyurut karena sumber airnya berkurang. Melalui Ngalokat Cai, kami berharap ada upaya nyata melestarikan sumber mata air di sini,” harap Dedi.
Pesta Adat Dongkrak Ekonomi Pelaku UMKM Lokal
Panitia menutup rangkaian Ngalokat Cai dengan doa bersama di makam leluhur demi keselamatan warga dari bencana.
Selain melestarikan budaya lokal, perhelatan ini memutar roda ekonomi masyarakat Tanjungjaya. Puluhan pelaku UMKM memadati jalur Situ Sanghiyang untuk menjajakan kuliner tradisional dan produk kerajinan tangan.
(Abdul Latif)



