CIAMIS, FOKUSJabar.id: Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Ciamis Jawa Barat (Jabar) menjadikan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sebagai momentum untuk menanamkan budaya hemat air dan kepedulian terhadap lingkungan kepada peserta didik.
Langkah tersebut di lakukan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang mulai berlangsung di sejumlah wilayah.
BACA JUGA:
Antusiasme Tinggi, Target 12 Ribu Verifikasi Arah Kiblat di Ciamis Tercapai
Program ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Gubernur Jawa Barat yang di teruskan melalui Surat Edaran Bupati Ciamis mengenai kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.
Melalui kebijakan tersebut, sekolah di dorong tidak hanya menjaga ketersediaan air bersih. Tetapi juga membangun kesadaran warga sekolah agar lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya air.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Muharam Ahmad Zajuli mengatakan, seluruh satuan pendidikan telah di minta memasukkan materi penghematan air dan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan dalam kegiatan MPLS.
“Sejak hari pertama masuk sekolah, peserta didik kami kenalkan pentingnya menjaga lingkungan dan menggunakan air secara bijaksana. Kami ingin kebiasaan ini tumbuh menjadi karakter, bukan sekadar materi pembelajaran,” ujarnya, Kamis (16/7/2026).
Menurut Muharam, pendekatan pembelajaran di sesuaikan dengan usia peserta didik. Untuk jenjang SMP, siswa di ajak memahami persoalan kekeringan melalui diskusi, simulasi dan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka di kenalkan pada berbagai kebiasaan sederhana. Seperti menggunakan air secukupnya saat mencuci tangan, menutup keran setelah di gunakan hingga menjaga saluran air tetap bersih sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana.
“Siswa SMP sudah mampu memahami hubungan antara perilaku sehari-hari dengan dampaknya terhadap lingkungan. Karena itu, kami dorong pembelajaran yang lebih interaktif agar mereka bisa menjadi pelopor budaya hemat air,” jelasnya.
Sementara bagi siswa SD, penyampaian materi di lakukan dengan cara yang lebih sederhana dan menyenangkan agar mudah di pahami sesuai karakteristik usia anak.
Selain membangun kesadaran, Disdik Ciamis juga meminta seluruh kepala sekolah memastikan fasilitas pendukung tetap dalam kondisi baik selama musim kemarau.
Pemeriksaan terhadap sumber air bersih, toilet, tempat cuci tangan, hingga sistem drainase di lakukan secara berkala agar aktivitas belajar mengajar tidak terganggu.
BACA JUGA:
Rashdul Kiblat Bantu Pastikan Arah Kiblat Presisi
“Fasilitas sanitasi harus tetap berfungsi optimal. Sekolah perlu memastikan pasokan air bersih tersedia. Sehingga lingkungan belajar tetap sehat dan nyaman bagi seluruh warga sekolah,” kata Muharam.
Di sisi lain, Disdik terus memperkuat implementasi program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Terutama di tingkat SMP yang telah memiliki tim kesiapsiagaan di lingkungan sekolah.
Program tersebut di arahkan untuk membangun budaya siaga terhadap berbagai potensi bencana, termasuk ancaman kekeringan.
Menurut Muharam, kesiapsiagaan tidak hanya di lakukan ketika bencana terjadi. Tetapi juga di mulai melalui pembiasaan dan edukasi sejak dini.
“Melalui SPAB, kami ingin sekolah menjadi tempat yang aman sekaligus mampu membentuk warga sekolah yang memahami langkah-langkah mitigasi terhadap berbagai potensi bencana. Termasuk saat musim kemarau,” ungkapnya.
Ia berharap, upaya tersebut mendapat dukungan dari seluruh elemen. Mulai dari guru, tenaga kependidikan, peserta didik hingga orang tua. Sehingga budaya hemat air dapat di terapkan secara berkelanjutan, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
“Kalau kebiasaan menghemat air sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak, manfaatnya akan di rasakan lebih luas. Mereka bukan hanya belajar menjaga lingkungan sekolah, tetapi juga membawa kebiasaan baik itu ke keluarga dan masyarakat,” pungkasnya.
(Mia)



