spot_imgspot_img
Jumat 5 Juni 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Rupiah Capai Titik Terlemah, Sentuh Rp18 ribu per Dolar AS 

JAKARTA, FOKUSJabar.id: Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali meningkat pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. Mata uang Indonesia tercatat menembus level Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat (AS).

Angka tersebut menjadi sorotan pasar karena menandai salah satu posisi terlemah rupiah dalam sejarah perdagangan modern.

BACA JUGA:

BGN Ubah Strategi MBG Tingkatkan Tata Kelola dan Efisiensi, Fokus ke Ibu Hamil, Balita dan Daerah 3T

Pergerakan tersebut terjadi ketika dolar AS terus menguat terhadap sejumlah mata uang dunia. Di tengah kondisi global yang masih di bayangi ketidakpastian, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang di anggap lebih aman. Sehingga permintaan terhadap dolar meningkat.

Kondisi itu berdampak langsung pada mata uang negara berkembang. Termasuk rupiah.

Sepanjang perdagangan, kurs rupiah sempat bergerak di rentang Rp18.003 hingga Rp18.019 per dolar AS. Bahkan, beberapa data pasar mencatat nilai tukar sempat menyentuh sekitar Rp18.024 per dolar AS pada perdagangan intraday.

Melemahnya rupiah di nilai tidak lepas dari berbagai sentimen eksternal yang saat ini mendominasi pasar keuangan global.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai ketidakpastian global yang semakin meningkat menjadi faktor utama yang menekan pergerakan mata uang domestik.

Menurut Lukman, salah satu pemicu penguatan dolar AS berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut membuat investor global lebih berhati-hati dan memilih aset yang di nilai memiliki tingkat keamanan lebih tinggi.

“Rupiah di perkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah,” kata Lukman di kutip antara.

Selain perkembangan geopolitik, penguatan dolar AS juga mendapat dorongan dari sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan hasil lebih baik di bandingkan perkiraan pasar.

BACA JUGA:

BI Tingkatkan Intervensi Saat Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Data ketenagakerjaan yang solid serta meningkatnya aktivitas sektor jasa berdasarkan indeks Institute for Supply Management (ISM) memperkuat keyakinan pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi AS.

Membaiknya berbagai indikator tersebut memperbesar optimisme investor terhadap prospek ekonomi Negeri Paman Sam. Dampaknya, permintaan terhadap dolar AS meningkat dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang. Termasuk rupiah.

Di sisi lain, faktor domestik di nilai belum mampu memberikan dukungan yang cukup kuat bagi penguatan rupiah. Sentimen pasar dalam negeri masih relatif terbatas sehingga belum mampu mengimbangi tekanan yang datang dari luar negeri.

Meski demikian, peluang pelemahan yang lebih dalam di perkirakan dapat tertahan oleh langkah-langkah yang di tempuh Bank Indonesia.

Dengan posisi rupiah yang kembali mendekati level psikologis baru, pasar memperkirakan bank sentral akan meningkatkan upaya stabilisasi di pasar keuangan.

“Sentimen domestik yang masih buruk, namun kembali mendekati level psikologi baru, kemungkinan Bank Indonesia akan mengintervensi secara agresif,” tambahnya.

Dengan berbagai faktor yang masih membayangi pasar, pergerakan rupiah di perkirakan akan tetap fluktuatif dalam jangka pendek.

Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS/

Sementara pelaku pasar terus mencermati perkembangan ekonomi global, arah kebijakan moneter, serta langkah intervensi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah.

(Jingga Sonjaya)

spot_img

Berita Terbaru