BANDUNG, FOKUSJabar.id: Penataan ulang kawasan Gedung Sate menjadi salah satu langkah strategis Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dalam menjawab tantangan perkotaan yang semakin kompleks.
Kawasan yang selama ini di kenal sebagai pusat pemerintahan itu kini di arahkan untuk memiliki fungsi yang lebih luas. Tidak hanya administratif tetapi juga sebagai ruang publik yang terbuka dan representatif.
Selama bertahun-tahun, ruas Jalan Diponegoro yang berada tepat di depan Gedung Sate kerap mengalami kemacetan, terutama ketika berlangsung kegiatan massa. Kondisi tersebut sering kali di perparah oleh penutupan jalan yang berdampak langsung pada terganggunya mobilitas masyarakat di kawasan tersebut.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Ungkap 4 Langkah Strategis Atasi Banjir Kabupaten Bandung
Melihat situasi itu, pemerintah daerah mulai menerapkan pendekatan penataan kawasan berbasis integrasi fungsi dan desain. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan bahwa penataan ini di rancang sebagai solusi jangka panjang. Yang mampu menjawab kebutuhan mobilitas sekaligus menyediakan ruang publik yang layak.
Dalam konsep yang di kembangkan, halaman Gedung Sate akan terhubung secara visual dan fungsional. Dengan kawasan di sekitarnya, termasuk Lapangan Gasibu.
Penyelarasan ini di lakukan melalui penataan elevasi dan pembentukan sumbu kawasan. Yang memperkuat identitas Gedung Sate sebagai pusat pemerintahan Jawa Barat.
Selain integrasi kawasan, perubahan juga di fokuskan pada perluasan ruang terbuka. Halaman Gedung Sate di rancang menjadi area yang lebih luas dan mudah di akses masyarakat, sehingga tidak lagi bersifat eksklusif. “Halamannya nanti terbuka lebih luas dan lebar,” kata Dedi Mulyadi.
Langkah ini sekaligus menghadirkan ruang aspirasi yang lebih tertata bagi masyarakat. Aktivitas seperti penyampaian pendapat di muka umum tetap di fasilitasi. Namun dengan pengaturan ruang yang lebih baik sehingga tidak mengganggu fungsi kawasan lainnya.
Rekayasa lalu Lintas
Di sisi lain, penataan ini turut di iringi dengan rekayasa lalu lintas yang signifikan. Jalur kendaraan tidak lagi melewati bagian depan gerbang utama Gedung Sate, melainkan di alihkan ke jalur yang telah di sesuaikan. Skema ini di harapkan mampu menjaga kelancaran arus kendaraan di kawasan tersebut.
“Nanti ke depan Jalan Diponegoro tetap terbuka. Tidak akan terganggu oleh kegiatan di depan Gedung Sate,” ujar Dedi Mulyadi, Kamis, 15 April 2026.
Dengan pengaturan tersebut, kegiatan publik tidak lagi berdampak langsung terhadap penutupan jalan utama. Hal ini menjadi upaya untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan mobilitas dan ruang ekspresi masyarakat di ruang publik.
Dari sisi visual, penataan ini juga membawa perubahan signifikan terhadap wajah Gedung Sate. Halaman yang sebelumnya terkesan terbatas kini di rancang menjadi ruang yang lebih representatif. Mencerminkan nilai budaya sekaligus identitas pemerintahan Jawa Barat.
Baca Juga: Musrenbang Jabar 2026, Dedi Mulyadi Paparkan 5 Prioritas Pembangunan
Proyek penataan ini mencakup area seluas lebih dari 14 ribu meter persegi dan di targetkan rampung pada Agustus 2026. Kawasan tersebut nantinya tidak hanya berfungsi sebagai ruang publik. Tetapi juga dapat di manfaatkan untuk berbagai kegiatan resmi maupun aktivitas masyarakat.
Secara keseluruhan, penataan halaman Gedung Sate mencerminkan arah baru dalam pengelolaan kawasan pemerintahan yang lebih terbuka dan adaptif.
Selain menghadirkan solusi terhadap kemacetan, langkah ini juga di harapkan mampu menciptakan ruang publik yang inklusif. Nyaman, dan memiliki nilai estetika tinggi di tengah kota.
(Jingga Sonjaya)



