TASIKMALAYA,FOKUSjabar.id: Berdirinya gedung megah SMAN 11 Kota Tasikmalaya ternyata belum menjamin kenyamanan bagi para pelajar. Hingga saat ini, ketiadaan akses jalan yang layak memicu gelombang protes dari warga yang tergabung dalam Baraya Jawa Barat Istimewa (BJBI).
Kelompok masyarakat ini membentangkan sejumlah spanduk bernada tegas di berbagai sudut jalan strategis. Mereka mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera merealisasikan pembangunan infrastruktur jalan sebagai penunjang utama hak pendidikan para siswa.
Baca Juga: Seorang Pria Tewas Tenggelam di Kolam RM Kampung Swasana Tasikmalaya
“Dukung akses jalan untuk siswa SMA 11 Tasikmalaya demi keselamatan dan masa depan anak bangsa. Sekolah sudah berdiri, akses jalan mana?” demikian bunyi salah satu pesan dalam spanduk yang mengecam lambannya pembangunan infrastruktur tersebut.
Keselamatan Siswa Jadi Taruhan
Pembina BJBI, Drs. Dedi Suryana, M.Pd, menegaskan bahwa aksi ini murni berangkat dari rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap dunia pendidikan. Ia menilai aksesibilitas merupakan instrumen vital yang melekat dalam proses belajar mengajar.
Dedi mengkhawatirkan keselamatan para siswa yang setiap hari harus melewati jalur tidak representatif. “Kami mendukung aspirasi masyarakat agar pemerintah tidak mengorbankan keamanan siswa hanya karena lambannya pembangunan infrastruktur penunjang,” tegas Dedi.
Desak Pembebasan Lahan Segera
Ketua Umum BJBI, Burhan Sujani, menyoroti urgensi pembangunan jalan mengingat tahun ajaran baru akan segera tiba. Ia mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat mempercepat proses pembebasan lahan dan merealisasikan anggaran yang sebelumnya telah masuk dalam tahap perencanaan.
BJBI memberikan tenggat waktu yang jelas kepada para pengambil kebijakan. Dalam jangka pendek, mereka menuntut perbaikan akses jalan sementara. Sedangkan untuk jangka panjang, pemerintah harus menuntaskan pembangunan jalan permanen maksimal dalam kurun waktu satu tahun.
“Tahun ajaran baru sudah di depan mata. Pemerintah harus bergerak cepat agar mobilitas ratusan siswa tidak terganggu dan risiko kecelakaan di jalur lama bisa segera hilang,” ujar Burhan, Senin (13/4/2026).
Masyarakat Kota Tasikmalaya kini menunggu langkah konkret dari Gubernur Jawa Barat dan dinas terkait. Publik berharap pembangunan pendidikan tidak hanya berhenti pada seremonial berdirinya gedung, tetapi juga menjamin kenyamanan dan keselamatan siswa serta tenaga pengajar saat menuju sekolah.
(Abdul Latif)



