CIAMIS,FOKUSJabar.id: Wilayah Lakbok dan Purwadadi Kabupaten Ciamis yang menyandang status sebagai lumbung padi nasional kini menghadapi ironi besar dengan permasalahan yang tidak kunjung mendapat solusi. Ribuan hektare lahan pertanian di daerah tersebut terus terendam banjir akibat sirkulasi air yang tidak berfungsi optimal selama bertahun-tahun.
Kepala Desa Karangpaningal, Kecamatan Purwadadi Kabupaten Ciamis H. Udin, mengungkapkan keluhannya terkait kondisi tersebut. Ia menyebut sekitar 1.000 hektare sawah di wilayah Lakbok dan Purwadadi gagal memberikan hasil maksimal karena luapan air dari daerah seperti Kutawaringin dan Bantardawa terus menggenangi lahan pertanian.
Baca Juga: Sesosok Mayat Tanpa Identitas Mengambang di Leuwi Dukuh Sungai Citanduy Ciamis
“Setiap tahun, 50 persen wilayah Purwadadi terdampak banjir dari saluran air yang tersumbat. Kami membutuhkan perbaikan sirkulasi air secara menyeluruh agar petani tidak terus-menerus merugi,” tegas H. Udin.
Solusi Mesin Pompa yang Mangkrak
Pemerintah sebelumnya telah memberikan bantuan berupa dua unit mesin pompa sedot sebagai langkah darurat. Namun, H. Udin menyebut bantuan tersebut belum membuahkan hasil karena mesin tersebut kini tersimpan dan tidak aktif. Kendala biaya operasional, terutama harga solar, membuat mesin pompa tersebut tidak berjalan secara efektif.
“Mesin pompanya ada dua, tapi tidak aktif karena tidak ada solar. Akhirnya alat itu hanya disimpan saja, padahal petani sangat membutuhkan penyedotan air agar sawah mereka tidak seperti lapangan air,” tambahnya, Sabtu (11/4/2026).
Anggota DPRD Ciamis dari Fraksi Demokrat, Hakimah, membenarkan bahwa bantuan dua mesin pompa tersebut memang belum menuntaskan masalah banjir di lapangan. Menurutnya, sirkulasi air yang buruk tetap menjadi hambatan utama yang harus segera pemerintah tangani.
Desak Pembangunan Sodetan
Para petani di Lakbok dan Purwadadi mendesak pemerintah untuk segera membangun sodetan menuju Sungai Citanduy sepanjang kurang lebih satu kilometer. Sodetan ini dinilai sebagai solusi permanen untuk membuang kelebihan air yang selama ini tertahan di kawasan Siphon dan saluran Ciseel.
H. Udin berharap pemerintah tidak hanya memberikan janji politik, tetapi segera mengalokasikan anggaran untuk normalisasi saluran air di perbatasan Sidarahayu dan Purwadadi.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ciamis, Ape Ruswanda, menjelaskan bahwa pihaknya tengah mengupayakan langkah koordinasi lintas sektoral. Pemerintah fokus pada perbaikan lingkungan di wilayah hulu guna mengontrol debit air yang masuk ke kawasan hilir.
“Kami terus berkoordinasi dengan BKSDA dan Dinas Kehutanan Provinsi untuk melakukan pelestarian sumber air serta konservasi lahan di wilayah hulu. Langkah ini sangat penting untuk meminimalisir luapan air yang merendam lahan pertanian di Lakbok dan Purwadadi,” jelas Ape Ruswanda.
(Husen Maharaja/Irfansyahriza)



