spot_imgspot_img
Jumat 10 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Orok Kapas: Wali Kota Tasikmalaya Sedang Mengalami Krisis Komunikasi

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Kota Tasikmalaya sedang tidak baik-baik saja. Di balik deru pembangunan fisik, ada riak kegelisahan yang mulai memuncak menjadi gelombang protes. 

Seniman muda Tasikmalaya, Orok Kapas, melontarkan kritik pedas yang menjadi tamparan keras bagi nakhoda kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan yang sedang mengalami krisis komunikasi.

​”Mengapa komunikasi seorang Wali Kota begitu krusial? Karena di era digital ini, kegagalan menjelaskan program bukan hanya di anggap sebagai kelalaian administratif, melainkan kegagalan kepemimpinan,” kata Orok Kapas Jumat (10/4/2026).

Baca Juga: Jembatan Perintis Garuda, Nafas Baru Ekonomi dan Konektivitas Tasikmalaya-Ciamis

​Rumus 3M: Strategi yang Terlupakan

​Mengutip formulasi komunikasi dari tokoh nasional Garin Nugroho, idealnya seorang pemimpin harus membagi porsi komunikasinya menjadi 30%, 30%, dan 40%. Orok Kappas menyederhanakannya menjadi 3M, Mempertahankan, Mendeskripsikan dan Memandu.

Mempertahankan (30%), yakni Kemampuan mengamankan stabilitas kekuasaan dan kepercayaan publik.Mendeskripsikan (30%). Kejelasan dalam menjabarkan program kerja agar tidak terjadi distorsi informasi. dan Memandu (40%). Porsi terbesar di mana pemimpin hadir sebagai kompas di tengah kebingungan masyarakat.

​”Sayangnya, di mata publik Tasikmalaya, nakhoda kita tampak lebih sibuk “berlari ke sana kemari” tanpa arah yang jelas untuk memandu warga yang mulai mabuk laut akibat ketidakpastian kebijakan,” tegasnya.

Psikologi Massa dan “Air yang Keruh”

​Analogi yang di gunakan Orok sangat telak. Masyarakat adalah penumpang kapal. Ketika kapal di hantam ombak ketidakpuasan, tugas nakhoda adalah menenangkan. 

Namun, ketika komunikasi tersumbat, terjadilah “mual massal”. Aksi massa yang kerap mendatangi Bale Kota adalah bentuk muntahan rasa kecewa yang tak lagi terbendung.

​Menurut Orok jika krisis komunikasi ini di biarkan, ada ancaman nyata di depan mata. Politisasi Keadaan. Celah informasi akan di manfaatkan lawan politik untuk melumpuhkan citra.

​Trial by Social Media. Media sosial kini bukan sekadar panggung diplomasi, tapi bisa berubah menjadi “panggung pengadilan” dan pembunuh karakter yang kejam. Dan Distrust hilangnya kepercayaan masyarakat kepada lembaga pemerintahan.

Prak, Pèk, Pok, Kearifan Lokal yang Terabaikan

​”Orang tua kita di Tanah Sunda telah mewariskan filosofi kepemimpinan yang sangat sederhana namun sakral, Prak, Pèk, Pok,” katanya.

​Prak (Gawé), Kerjakan tugasmu dengan benar. Pèk (Béré), Berikan hak-hak rakyat dan solusi atas masalah mereka dan Pok (Ngomong). Bicaralah, komunikasikan apa yang telah dan akan di lakukan.

​”Seorang pemimpin tidak bisa hanya bekerja (Prak) tanpa bicara (Pok), karena publik butuh kepastian. Sebaliknya, terlalu banyak bicara tanpa hasil nyata hanya akan di anggap bualan. Keseimbangan inilah yang tampaknya hilang dari pola kepemimpinan di Kota Tasik saat ini,” tegas Orok.

Baca Juga: Puluhan Pelajar SMAN 1 Cisayong Tasikmalaya Diduga Keracunan MBG

​Kritikan ini bukanlah sekadar nyanyian sumbang, melainkan alarm peringatan. Wali Kota Viman Alfarizi Ramadhan harus segera bercermin. Jangan sampai Kota Tasikmalaya terus melihat bayangannya di air yang keruh—penuh prasangka dan ketidakpuasan.

​Sudah saatnya Bale Kota membuka pintu komunikasi yang lebih cair, transparan, dan memandu. Karena pada akhirnya, kepada siapa lagi masyarakat mengadu jika pemimpinnya lebih memilih sibuk sendiri daripada mendengar keluh kesah warga.

​Segera evaluasi, segera peka. Komunikasi adalah kunci, sebelum “muntah” massal itu menjadi badai yang tak terhentikan.

​(Abdul Latif)

spot_img

Berita Terbaru