spot_imgspot_img
Rabu 1 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Dua Dekade Menanti Renovasi, Nestapa Keluarga Saparudin Tinggal di Rumah yang Nyaris Runtuh

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Di sebuah sudut permukiman yang luput dari perhatian, Saparudin (56) harus bertaruh nyawa di bawah atap rumah yang nyaris ambruk. Warga Babakan Cikeruh, Kabupaten Bandung ini menghuni bangunan berdinding bilik rapuh bersama adik perempuan dan sanak saudaranya.

Total 12 jiwa menggantungkan keselamatan mereka pada bangunan yang sudah tidak layak huni tersebut. Setiap kali hujan mengguyur, air merembes bebas dari atap yang lapuk hingga membasahi lantai tanah. Angin kencang pun seringkali membuat dinding bambu itu bergoyang, seolah siap roboh kapan saja dan mengancam nyawa penghuninya.

Baca Juga: Dukung Efisiensi Anggaran, ASN Pemkot Bandung Wajib Gunakan Angkutan Umum Setiap Hari Jumat

Saparudin tidak memiliki banyak pilihan selain bertahan. Penghasilannya dari pekerjaan serabutan yang tidak menentu membuatnya sulit memperbaiki rumah secara mandiri.

“Saya hanya bekerja serabutan, pemasukan setiap hari pun belum jelas berapa besarnya,” ujar Saparudin, Rabu (1/4/2026).

Terjebak dalam Siklus Pendataan

Saparudin mengeluhkan sikap pihak berwenang yang berulang kali datang hanya untuk mendata. Petugas dari tingkat desa hingga kecamatan sudah sering mengambil foto dan meminta identitasnya sebagai syarat pengajuan bantuan, namun bantuan tersebut tak kunjung tiba.

Ironisnya, proses pengumpulan data ini sudah berlangsung selama lebih dari satu dekade, tepatnya sejak tahun 2013. Hingga kini, bangunan yang ia tempati sejak tahun 2000 itu belum pernah tersentuh renovasi sedikit pun.

“Pihak wilayah sudah beberapa kali datang ke sini untuk memotret. Data saya sudah menumpuk di sana, tapi mereka belum merealisasikan bantuan apa pun,” ungkapnya.

Menanti Kepastian di Tengah Janji

Selain dari pihak pemerintah, Saparudin juga menerima kunjungan dari pihak partai politik pada Februari lalu. Namun, kunjungan tersebut lagi-lagi berakhir pada pendataan tanpa tindak lanjut konkret.

Meski sesekali menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT), Saparudin menegaskan bahwa kebutuhan mendesaknya saat ini adalah renovasi rumah. Ia sangat mendambakan tempat tinggal yang aman agar seluruh anggota keluarganya bisa tidur dengan tenang tanpa dihantui rasa takut tertimpa bangunan.

“Harapan saya, ada pihak yang bermurah hati tergerak untuk membantu kami. Kami sangat membutuhkan perbaikan rumah, bukan sekadar janji dan foto,” pungkasnya.

spot_img

Berita Terbaru