spot_imgspot_img
Selasa 31 Maret 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Nusa Manuk di Desa Cimanuk Tasikmalaya, Rahasia ‘Kerajaan Burung’ di Benteng Terluar Samudra Hindia

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Di titik pertemuan antara daratan Tasikmalaya dan cakrawala Samudra Hindia, berdiri Desa Cimanuk yang menyimpan kekayaan sejarah luar biasa. Desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pangandaran ini mengambil identitasnya dari sebuah pulau eksotis yang menjadi benteng terluar Indonesia Pulau Nusa Manuk.

Pulau Nusa Manuk terdiri dari dua gugusan pulau karang seluas 2 hektar yang berjarak hanya 250 meter dari bibir pantai Kecamatan Cikalong. Bagi kedaulatan negara, pulau ini memegang peran krusial sebagai penentu batas wilayah kedaulatan Indonesia di laut selatan.

Baca Juga: Sumbang PAD dan Cetak Laba, Wali Kota Tasikmalaya Apresiasi Performa BUMD BPRS Al Madinah

Secara visual, Nusa Manuk menampilkan dua karakter yang kontras. Sisi barat pulau tampak rimbun oleh semak belukar dan pepohonan hijau, sementara sisi timur menyuguhkan hamparan karang kokoh yang terus menerus menerima hantaman ombak samudra.

Legenda Kerajaan Burung

Nama “Nusa Manuk” sendiri berasal dari bahasa Sunda, di mana Nusa berarti pulau dan Manuk berarti burung. Tokoh masyarakat setempat, H. Agus Salimudin, menceritakan bahwa ribuan burung telah menjadikan pulau ini sebagai rumah atau “kerajaan” mereka sejak puluhan tahun silam.

Pulau ini memiliki pembagian wilayah hunian yang unik bagi para unggas:

  • Pulau Timur: Menjadi habitat burung laut. Saat musim migrasi tiba, ribuan burung singgah untuk bertelur hingga mengubah warna karang menjadi putih.
  • Pulau Barat: Menjadi tempat menginap burung darat. Mereka terbang dari daratan setiap sore hanya untuk beranak pinak di rimbunnya pepohonan pulau ini.

“Burung-burung di sini memiliki ikatan batin yang kuat dengan alamnya. Meskipun jinak, warga tidak ada yang berani membawa mereka pulang karena burung-burung ini pasti akan terbang kembali ke Nusa Manuk saat dewasa,” ungkap H. Agus Salimudin.

Transformasi Identitas Desa Cimanuk

Sejarah mencatat bahwa Desa Cimanuk awalnya merupakan bagian dari Desa Kalapagenep. Pada tahun 1980-an, para tokoh masyarakat sepakat melakukan pemekaran wilayah karena luasnya cakupan administratif.

Dalam proses pencarian nama baru, mereka memilih “Cimanuk” sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap keberadaan Pulau Nusa Manuk. Nama ini mencerminkan kebanggaan warga terhadap kekayaan alam ikonik yang menjadi rumah bagi ribuan sayap tersebut.

Lumbung Emas Para Nelayan

Selain menjadi suaka bagi burung, perairan di sekitar Nusa Manuk merupakan “gudang emas” bagi para nelayan lokal. Potensi lautnya sangat melimpah, terutama komoditas udang lobster dan berbagai jenis ikan konsumsi. Pemandangan siluet perahu nelayan yang menghiasi sekitar pulau menjadi pemandangan harian yang lazim di sana.

Menjaga Pulau Nusa Manuk bukan sekadar mempertahankan batas administratif negara, melainkan juga melestarikan kearifan lokal dan ekosistem laut yang vital. Jika Anda melintasi jalur wisata Tasikmalaya-Pangandaran, sempatkanlah menatap ke arah samudra untuk melihat kegagahan pulau penjaga sejarah ini.

(Abdul Latif)

spot_img

Berita Terbaru