PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: SD Negeri 2 Ciganjeng, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, menghadirkan inovasi luar biasa dengan menyulap lahan parkir sekolah menjadi green house kebun anggur yang produktif. Selain menghijaukan lingkungan, kebun ini berfungsi sebagai laboratorium alam yang mengedukasi para siswa secara langsung.
Green house berukuran 7 x 7 meter yang berdiri di halaman depan sekolah ini menampung berbagai varietas anggur impor. Meskipun pihak sekolah baru menanamnya sekitar enam bulan lalu, tanaman merambat tersebut kini sudah berbuah lebat dan memasuki masa panen perdana.
Baca Juga: Disdikpora Pangandaran Tolak Menu MBG Tidak Layak Konsumsi
Jajaran Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pangandaran meninjau langsung lokasi untuk mencicipi kesegaran buah anggur hijau dan ungu tersebut. Pihak sekolah juga membagikan hasil panen kepada para siswa yang selama ini telaten merawat tanaman tersebut.
Kolaborasi Kreatif dan Dana Mandiri
Kepala Disdikpora Kabupaten Pangandaran, Soleh Supriadi, memuji terobosan Kepala SDN 2 Ciganjeng yang sukses memanfaatkan lahan terbatas secara multifungsi. Konsep cerdas ini menggabungkan area parkir kendaraan dengan perkebunan produktif yang menyejukkan mata.
“Saya sangat mengapresiasi keberhasilan kepala sekolah dalam menanam anggur ini. Inovasi ini harus menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Pangandaran,” tegas Soleh saat berkunjung ke sekolah tersebut, Selasa (31/3/2026).
Kepala SDN 2 Ciganjeng, Wahyuningsih, menjelaskan bahwa proyek ini lahir dari kolaborasi dengan kelompok tani lokal, termasuk Kang Tahmo dan Kang Didi. Mereka membimbing pihak sekolah mulai dari penyiapan media tanam hingga pemilihan bibit unggul.
Menariknya, pendanaan pembangunan green house ini berasal dari program “kencleng” sukarela para siswa dan komite. Siswa menyisihkan sebagian uang jajan mereka sebagai bentuk kontribusi nyata untuk membangun fasilitas edukasi di sekolah mereka sendiri.
Membangun Karakter Lewat Pertanian
Wahyuningsih menekankan bahwa proyek ini membawa misi pendidikan karakter yang kuat. Melalui kegiatan bercocok tanam, siswa belajar tentang tanggung jawab, kesabaran, serta kedisiplinan dalam merawat makhluk hidup.
“Anak-anak kini memahami proses budidaya dari awal. Secara mental, mereka juga belajar menahan diri untuk tidak memetik buah sebelum waktunya, yang secara tidak langsung melatih kejujuran dan rasa memiliki terhadap aset sekolah,” pungkas Wahyuningsih.
Langkah SDN 2 Ciganjeng ini membuktikan bahwa keterbatasan ruang dan biaya bukan penghalang untuk menciptakan lingkungan belajar yang kreatif. Asalkan ada kolaborasi erat antara sekolah, orang tua, dan masyarakat sekitar.
(Sajidin)



