BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pergerakan arus balik Lebaran 2026 mulai menunjukkan peningkatan signifikan pada gelombang pertama yang berlangsung 24 hingga 25 Maret. Ribuan kendaraan kini memadati jalur dari arah Jawa Tengah menuju Jawa Barat dan Jakarta, sehingga menuntut pengaturan lalu lintas yang lebih terstruktur di titik-titik krusial, Selasa (24/3/2026).
Volume kendaraan yang kembali ke arah ibu kota mencapai angka fantastis, yakni sekitar 2,38 juta unit. Besarnya angka ini berdampak langsung pada kepadatan ruas tol utama penghubung timur ke barat, khususnya di kawasan Cikampek yang menjadi fokus utama pengawasan petugas.
Baca Juga: Gebrakan Bupati Rudy Susmanto, Kawasan Wisata Nirmala Bogor Jadi Primadona Baru Libur Lebaran 2026
Penerapan Sistem One Way Nasional
Pemerintah menerapkan sistem satu arah (one way) secara nasional mulai 24 Maret 2026 pukul 14.25 WIB guna mengantisipasi penumpukan. Skema ini membentang dari KM 414 Gerbang Tol Kalikangkung di Semarang hingga KM 70 ruas tol Jakarta–Cikampek yang menjadi pintu masuk utama wilayah Jawa Barat.
Petugas melakukan penerapan ini secara bertahap melalui serangkaian uji coba di beberapa titik. Langkah awal dimulai dari KM 263 hingga KM 70, kemudian meluas dari KM 390 ke KM 70, serta dari KM 424 menuju KM 414 guna mengurangi kepadatan secara perlahan dan terukur.
Kombinasi Contraflow dan Ganjil-Genap
Selain one way, kepolisian juga memberlakukan sistem contraflow untuk menambah kapasitas jalur menuju Jakarta. Rekayasa ini berlaku di ruas tol Jakarta–Cikampek mulai dari KM 70 hingga KM 47. Sementara itu, di tol Jagorawi, petugas menerapkan contraflow secara situasional dari KM 21 hingga KM 8.
Pengaturan kendaraan semakin kuat dengan pemberlakuan sistem ganjil-genap sejak 23 hingga 29 Maret 2026. Aturan ini membatasi jumlah kendaraan yang melintas di ruas tol utama, mulai dari KM 414 hingga KM 47, guna menjaga kelancaran arus lalu lintas.
Penanganan Jalur Arteri dan Kebijakan Pendukung
Kawasan Nagreg tetap menjadi perhatian utama untuk jalur non-tol di Jawa Barat. Petugas menerapkan sistem buka-tutup secara situasional menyesuaikan kondisi riil di lapangan bagi para pemudik yang memilih jalur alternatif.
Guna memecah konsentrasi massa, pemerintah mengeluarkan dua kebijakan tambahan:
- Diskon Tarif Tol: Memberlakukan potongan harga sebesar 30 persen pada periode tertentu untuk mendorong distribusi perjalanan.
- Work From Anywhere (WFA): Menetapkan kebijakan bekerja dari mana saja pada 25 hingga 27 Maret agar masyarakat lebih fleksibel mengatur waktu kepulangan.
Pengelola jalan tol juga memantau ketat rest area melalui sistem buka-tutup dan pengawasan CCTV. Melalui berbagai langkah komprehensif ini, pemerintah optimistis kelancaran arus balik di wilayah Jawa Barat tetap terjaga meski volume kendaraan terus meningkat tajam.
(Jingga Sonjaya)



