Sutradara: Tom Harper | Naskah: Steven Knight | Pemeran: Cillian Murphy, Rebecca Ferguson, Barry Keoghan.
FOKUSJabar.id: Setelah satu dekade menguasai jalanan Birmingham, Thomas Shelby akhirnya menghadapi musuh yang tidak bisa ia gertak dengan pistol atau taktik bisnis yakni masa lalunya sendiri. Film The Immortal Man yang rilis di Netflix bulan ini memilih jalur yang berani dengan mengesampingkan ambisi kekuasaan dan berfokus pada penebusan dosa di tengah berkecamuknya Perang Dunia II tahun 1940.
Tommy Shelby yang “Lelah”
Cillian Murphy kembali memerankan Thomas Shelby dengan kualitas akting yang luar biasa. Kali ini, Tommy tidak lagi tampil sebagai pemimpin geng yang dingin dan penuh perhitungan. Sebaliknya, penonton melihat sosok pria yang sangat lelah dan dihantui oleh bayang-bayang orang yang telah tiada.
Tommy keluar dari pengasingannya bukan untuk memperluas imperium, melainkan untuk membereskan sisa-sisa kehancuran yang ia ciptakan. Munculnya Duke (Barry Keoghan) sebagai generasi penerus mempertegas tema utama film ini yakni Warisan. Film ini secara jujur memperlihatkan bahwa keputusan masa lalu Tommy kini menjadi beban berat bagi anak-anaknya.
Skala Besar, Rasa Personal
Meskipun berlatar pengeboman The Blitz oleh Nazi, sutradara Tom Harper secara cerdik menjaga agar emosi film tetap terasa personal. Konspirasi uang pound palsu oleh Nazi memang menjadi penggerak plot, namun jantung ceritanya tetap berada pada hubungan antarkarakter.
Bagi penonton yang mengharapkan aksi baku hantam yang intens seperti di musim-musim awal serialnya, film ini mungkin terasa berjalan lebih lambat. Namun, tempo yang tenang ini justru memberi ruang bagi penonton untuk merasakan kerapuhan Tommy yang selama ini tersembunyi di balik topi flat cap-nya.
Kesimpulan: Penutup yang Layak?
The Immortal Man membuktikan bahwa makna “Immortal” atau abadi dalam judulnya bukan merujuk pada fisik Tommy yang tak bisa mati, melainkan pada trauma dan rasa bersalah yang terus hidup bersamanya.
Meskipun beberapa bagian terasa kurang “menggigit” secara aksi, film ini memberikan penutup yang jujur dan reflektif. Thomas Shelby tidak pergi dengan ledakan besar, melainkan dengan upaya mencari ketenangan di tengah kekacauan dunia. Sebuah akhir yang sangat manusiawi bagi salah satu karakter paling kompleks di layar kaca.
(Irfansyah)



