spot_imgspot_img
Selasa 10 Maret 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Nilai Tukar Rupiah Melemah, Sentuh Rp17 Ribu di Tengah Gejolak Ekonomi Global

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026.

Mata uang Indonesia tersebut tercatat bergerak melemah hingga menyentuh kisaran Rp17 ribu per dolar AS, sebuah level yang menjadi perhatian pelaku pasar karena mencerminkan tekanan terhadap stabilitas nilai tukar.

BACA JUGA:

Jelang Rilis Suku Bunga Acuan AS, Rupiah Drop ke Rp14.290

Pada awal perdagangan hari ini, rupiah di laporkan di buka di sekitar Rp17.001 per dolar AS. Angka tersebut menandai bahwa rupiah telah menembus ambang psikologis Rp17.000, level yang selama ini di pantau ketat oleh pelaku pasar dan analis karena sering di anggap sebagai batas penting dalam pergerakan kurs.

Pelemahan tersebut sekaligus memperpanjang tren penurunan nilai tukar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Sebelumnya, rupiah masih berada di kisaran Rp16.905 hingga Rp16.930 per dolar AS, sebelum akhirnya kembali melemah dan bergerak ke level yang lebih tinggi terhadap dolar.

Sejumlah pengamat pasar menilai, pergerakan rupiah tidak terlepas dari situasi ekonomi global yang masih di liputi ketidakpastian.

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah di sebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar internasional.

Situasi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Yang pada akhirnya berdampak pada pasar keuangan global.

Bagi Indonesia, kondisi ini memiliki konsekuensi tersendiri. Mengingat negara ini masih bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi.

BACA JUGA:

AS-Cina Menegang, Rupiah Ditutup Melemah

Kenaikan harga energi biasanya meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan dan nilai tukar negara pengimpor minyak.

Kondisi tersebut kemudian memengaruhi persepsi risiko investor terhadap mata uang negara berkembang. Termasuk rupiah.

Di sisi domestik, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada perubahan outlook kredit Indonesia oleh Fitch Ratings dari stabil menjadi negatif.

Penilaian tersebut memicu sikap lebih berhati-hati dari sebagian investor dalam menempatkan dana di pasar keuangan Indonesia.

Perubahan pandangan dari lembaga pemeringkat internasional sering kali menjadi salah satu indikator yang di perhatikan investor global.

Ketika risiko di anggap meningkat, sebagian investor cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang di nilai lebih aman seperti dolar AS.

Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, pelemahan rupiah memang terlihat berlangsung secara bertahap. Pergerakan tersebut mencerminkan respons pasar terhadap berbagai faktor eksternal maupun dinamika ekonomi domestik.

Meski demikian, kondisi nilai tukar tidak selalu mencerminkan keseluruhan kinerja ekonomi nasional.

Sejumlah indikator domestik, termasuk tingkat inflasi dan aktivitas ekonomi masih menunjukkan kondisi yang relatif stabil.

Arah pergerakan rupiah di perkirakan masih akan di pengaruhi perkembangan ekonomi global serta sentimen investor terhadap kebijakan ekonomi dalam negeri.

Pelaku pasar pun terus memantau dinamika geopolitik dan kondisi pasar keuangan internasional yang dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar.

(Jingga Sonjaya)

spot_img

Berita Terbaru