BANDUNG, FOKUSJabar.id: Pembangunan halte untuk layanan Bus Rapid Transit (BRT) di sejumlah titik di Kota Bandung Jawa Barat (Jabar) mulai di laksanakan.
Proyek tersebut menjadi bagian dari pengembangan sistem transportasi massal di kawasan Cekungan Bandung yang tengah di siapkan pemerintah.
BACA JUGA:
UPI Siapkan Isola Fun Run 2026, Targetkan 1.500 Peserta dari Alumni hingga Masyarakat
Dinas Perhubungan Kota Bandung menyebut, total terdapat 232 titik halte yang akan di bangun. Kehadiran fasilitas tersebut di harapkan dapat mendukung operasional BRT sekaligus memperkuat sistem transportasi publik.
Program pembangunan halte ini merupakan bagian dari proyek yang di gagas oleh Kementerian Perhubungan untuk kawasan Cekungan Bandung yang mencakup Kota Bandung dan wilayah sekitarnya.
Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dishub Kota Bandung, Ferlian Hadi menjelaskan, pembangunan halte tidak hanya di lakukan di Kota Bandung.
Menurut Dia, proyek tersebut juga mencakup wilayah Kota Cimahi.
“Untuk halte off corridor jumlahnya ada 256 titik di wilayah Cekungan Bandung. Dari jumlah tersebut, 232 titik berada di Kota Bandung. Sisanya 24 titik berada di Kota Cimahi,” ungjapnya.
Di Kota Bandung sendiri, ratusan halte tersebut akan tersebar di 22 kecamatan. Pembangunan ini di rancang untuk mendukung akses masyarakat menuju layanan BRT yang akan beroperasi di kawasan tersebut.
BACA JUGA:
Anton Sukartono Suratto: Kasus TPPO Harus jadi Pelajaran
Ferlian menjelaskan, halte yang di bangun memiliki tiga jenis berbeda. Dari total 232 halte di Kota Bandung, sebanyak 172 titik berupa bus pole atau penanda halte berbentuk tiang, 80 titik berupa small shelter, dan 4 titik lainnya berupa big shelter.
Untuk halte berukuran besar atau big shelter, rencananya akan di tempatkan di beberapa titik strategis. Lokasi yang di pilih antara lain, Stasiun Hall Bandung, Jalan Merdeka, Summarecon Mall Bandung serta Stasiun Kiaracondong.
Berdasarkan klasifikasi status jalan, pembangunan halte juga tersebar di berbagai jenis ruas jalan. Sebanyak 38 titik berada di jalan nasional, 45 titik di jalan provinsi dan 149 titik berada di jalan kota.
Selain halte off corridor, proyek ini juga mencakup pembangunan halte on corridor yang berada di jalur khusus BRT. Jumlahnya di perkirakan mencapai sekitar 37 titik dengan konsep jalur terpisah menggunakan separator seperti sistem busway.
“Kalau yang on corridor jalurnya khusus. Sedangkan yang off corridor menggunakan mix traffic atau bercampur dengan kendaraan lainnya,” jelas Felian.
Saat ini, pembangunan halte off corridor telah di mulai di sejumlah lokasi di Kota Bandung. Berdasarkan data Dishub, sekitar 27 titik sudah memasuki tahap pekerjaan awal, seperti pembongkaran fasilitas lama dan persiapan lahan.
Beberapa lokasi yang mulai di kerjakan antara lain berada di kawasan Jalan Soekarno-Hatta, sekitar Stadion GBLA, Jalan Ramdan, BKR, Wastukancana, Dago, serta Jalan Merdeka.
Ferlian menuturkan, sesuai timeline dari Kementerian Perhubungan, pembangunan halte BRT baik on corridor maupun off corridor di targetkan selesai pada akhir 2026.
BACA JUGA:
Kisah Pilu Korban TPPO Kamboja Asal Garut
Dalam pelaksanaan proyek ini, Pemerintah Kota Bandung turut mendukung proses pembangunan. Termasuk membantu perizinan serta penyiapan lahan yang dibutuhkan.
“Setelah pembangunan selesai, pengelolaan BRT nantinya berada di Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Saat ini Dishub Provinsi Jawa Barat sudah menunjuk PT Jasa Sarana sebagai operator sementara untuk pengoperasiannya,” kata Ferlian.
Ke depan, sistem BRT juga di rencanakan terhubung dengan moda transportasi yang sudah ada. Angkutan kota akan di fungsikan sebagai feeder yang menghubungkan penumpang menuju koridor BRT.
Selama proses pembangunan berlangsung, masyarakat di imbau untuk tetap berhati-hati saat melintas di sekitar area pekerjaan. Warga juga dapat menyampaikan keluhan atau masukan terkait proyek tersebut melalui layanan pengaduan di nomor 0813-1436-704.
(Jingga Sonjaya)


