BANDUNG, FOKUSJabar.id: Badan Gizi Nasional (BGN) kembali menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi 1.000 orang penjamah makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bandung Jawa Barat (Jabar).
Pelatihan tersebut menjadi salah satu syarat untuk memperoleh Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang menjadi standar penting bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam menjamin kebersihan dan kesehatan dapur produksi makanan.
BACA JUGA:
Menu MBG Berkutu di Rajapolah Tasikmalaya, Begini Sikap Fraksi PDI Perjuangan
Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya mengatakan, pelatihan tersebut kembali di laksanakan setelah sempat tidak berjalan dalam beberapa waktu terakhir.
“Setelah beberapa waktu tidak melaksanakan kegiatan, hari ini kita mulai kembali pelatihan penyaji makanan untuk para relawan dan perwakilan mitra. Pelatihan ini menjadi salah satu persyaratan untuk mendapatkan SLHS,” kata Sony di Harris Hotel Festival Citylink Bandung, Sabtu (7/3/2026).
Sony menjelaskan, sertifikat tersebut penting untuk memastikan dapur produksi makanan memiliki standar kebersihan dan kesehatan yang layak.
“SLHS ini merupakan syarat penting sebagai jaminan bahwa kegiatan produksi makan bergizi di laksanakan di tempat yang sarana-prasarananya terjamin kebersihandan kesehatannya,” kata Dia.
BGN juga mewajibkan mitra dapur yang telah beroperasi untuk mendaftar SLHS maksimal 30 hari sejak hari pertama operasional melalui dinas kesehatan setempat.
Jika tidak mendaftar dalam batas waktu tersebut, operasional mitra akan di suspend sementara.
“Kalau dalam 30 hari belum juga mendaftar, maka BGN akan suspend atau menghentikan sampai mitranya mendaftar. Pendaftaran di lakukan melalui dinas kesehatan setempat,” jelasnya.
BACA JUGA:
Wali Kota Bandung Pastikan Stok BBM dan LPG Aman Meski Harga Minyak Dunia Naik
Sony mengungkapkan, saat ini terdapat 240 SPPG yang berpotensi di suspend karena belum mendaftarkan SLHS meski telah melewati batas waktu.
Menurutnya, sertifikat tersebut bukan sekadar formalitas. Tetapi mencerminkan komitmen mitra dalam menghadirkan dapur produksi yang sehat dan layak.
“Bukan hanya sekadar sertifikat, tetapi bagaimana niat untuk mewujudkan dapur SPPG yang memiliki persyaratan yang baik dan sehat,” ungkapnya.
Sony mengatakan, hingga kini terdapat sekitar 25.061 SPPG yang beroperasi. BGN juga rutin melakukan inspeksi lapangan untuk memastikan standar dapur terpenuhi. Mulai dari sirkulasi udara, suhu ruang produksi hingga sistem pengolahan limbah.
“Sering kami lakukan pemeriksaan ke lapangan. Ada yang di beri SP satu, SP dua. Bahkan ada yang langsung di hentikan karena memang sarana-prasarananya tidak layak,” ujarnya.
Ia mencontohkan, dalam salah satu kunjungannya ke daerah, di temukan SPPG dengan kondisi yang tidak memenuhi standar. Seperti sirkulasi udara yang buruk, suhu ruang produksi yang tidak sesuai hingga sistem pengolahan limbah yang tidak memadai.
“Kita cek mulai dari sirkulasi udara, suhu ruangan saat produksi, termasuk IPAL. Ada yang IPAL-nya hanya berupa septic tank,” ucapnya.
Meski demikian, Sony menegaskan bahwa secara umum banyak SPPG yang telah memenuhi standar dan beroperasi dengan baik. Ia menilai pemberitaan di media sosial kerap lebih menyoroti kasus-kasus yang bermasalah.
“Secara umum banyak yang baik. Yang muncul di media sosial biasanya yang tidak baiknya saja,” pungkasnya.
(Yusuf Mugni)


