BANDUNG,FOKUSJabar.id: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang masih berpeluang terjadi di wilayah Bandung Raya dalam beberapa hari ke depan. Dinamika atmosfer yang masih aktif memicu peningkatan potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Jawa Barat.
Kepala BMKG Kelas I Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan kondisi atmosfer selama sepekan ke depan masih mendukung terbentuknya hujan dengan intensitas cukup tinggi di sebagian wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya. Sejumlah faktor global dan regional ikut memengaruhi pertumbuhan awan konvektif yang memicu hujan.
Baca Juga: Tinggal Tiga Rute! Segera Daftar Mudik Gratis via Sapawarga, Tersisa 660 Kursi
Menurut Teguh, suhu muka laut di sekitar perairan Indonesia berada pada kondisi relatif hangat sehingga meningkatkan suplai uap air ke wilayah Jawa Barat. Kondisi tersebut memperbesar peluang terbentuknya awan hujan.
Selain itu, aktivitas gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) masih terpantau aktif. Fenomena tersebut diperkuat gelombang atmosfer frekuensi rendah serta terbentuknya daerah pertemuan dan belokan angin di sekitar Jawa Barat.
“Labilitas atmosfer berada pada kategori ringan hingga kuat. Kondisi ini mendukung pertumbuhan awan konvektif skala lokal, terutama pada siang hingga sore hari,” ujar Teguh, Kamis (5/3/2026).
BMKG juga memantau kemunculan Bibit Siklon Tropis 90S di Samudra Hindia selatan Jawa Tengah. Kehadiran bibit siklon ini memicu dampak tidak langsung berupa peningkatan potensi hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur hingga Bali.
Pada Rabu (4/3/2026) sekitar pukul 13.10 WIB, hujan lebat beserta angin kencang sempat melanda sejumlah wilayah di Jawa Barat, termasuk Bandung Raya. Data dari Stasiun Geofisika Kelas I Bandung mencatat kecepatan angin mencapai 31,5 kilometer per jam dengan intensitas hujan sekitar 17 mm per jam.
Memicu Genangan Air hingga Banjir
Intensitas tersebut tergolong hujan lebat yang berpotensi meningkatkan limpasan air permukaan sehingga memicu genangan hingga banjir di sejumlah titik.
Hasil interpretasi citra radar menunjukkan pertumbuhan awal sel awan konvektif muncul di wilayah selatan Purwakarta dan utara Bandung Barat. Awan berkembang hingga mencapai fase matang di sekitar Cianjur sebelum bergerak ke timur menuju Kota Bandung sekitar pukul 13.09 WIB. Kemudian meluas ke wilayah Bandung Timur sekitar pukul 13.33 WIB.
Reflektivitas radar pada periode 13.01 hingga 13.33 WIB berada pada kisaran 35–45 dBZ yang menandakan peningkatan intensitas hujan. Sekitar pukul 14.29 WIB, awan hujan mulai memasuki fase peluruhan.
Kondisi cuaca serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain seperti Kabupaten dan Kota Sukabumi, Kabupaten Bandung, Sumedang, Cirebon, serta Kuningan. Aktivitas awan konvektif jenis Cumulonimbus memicu hujan sedang hingga lebat beserta kilat dan angin kencang. Bahkan menyebabkan pohon tumbang dan kerusakan di beberapa lokasi.
BMKG mengimbau masyarakat serta instansi terkait agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologis seperti hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, banjir, tanah longsor, serta pohon tumbang.
Warga diminta tetap tenang namun siaga, mengenali potensi risiko di lingkungan sekitar, serta memperbarui informasi cuaca melalui aplikasi InfoBMKG. BMKG juga mengingatkan masyarakat agar mengikuti arahan pemerintah daerah apabila terjadi kondisi darurat.
Selain itu, harapannya masyarakat berhati-hati saat merencanakan aktivitas. Terutama perjalanan darat, laut, maupun udara, mengingat kondisi cuaca dapat berubah dengan cepat dalam beberapa hari ke depan.
(Yusuf Mugni)


