spot_imgspot_img
Selasa 3 Maret 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Dari Panglima ABRI ke Wakil Presiden, Bab Penting dalam Sejarah Try Sutrisno

BADNUNG,FOKUSJabar.id: Perjalanan politik Indonesia pada dekade 1990-an tak pernah lepas dari sosok Try Sutrisno. Ia bukan figur yang muncul secara instan di panggung kekuasaan. Puluhan tahun pengabdian di dunia militer membentuk karakter, jaringan, dan pengaruhnya hingga akhirnya menempati kursi Wakil Presiden Republik Indonesia.

Pada Sidang Umum MPR 1993, para anggota MPR memilih Try Sutrisno sebagai Wakil Presiden RI ke-6. Ia mendampingi Soeharto dan menggantikan Sudharmono dalam struktur pemerintahan Orde Baru. Keputusan politik tersebut mencerminkan kuatnya peran militer dalam sistem ketatanegaraan saat itu.

Baca Juga: Indonesia Berduka Atas Berpulangnya Mantan Wapres Try Sutrisno

Try Sutrisno lahir di Surabaya pada 15 November 1935. Ia menempuh pendidikan militer di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) dan langsung terjun ke berbagai penugasan strategis. Dalam fase awal kariernya, ia ikut terlibat dalam operasi penumpasan PRRI serta misi di Irian Barat. Pengalaman lapangan itu memperkaya rekam jejaknya sebagai perwira yang matang secara operasional.

Kariernya terus menanjak. Pada 1974, ia memasuki lingkar dalam kekuasaan ketika menerima amanah sebagai ajudan Presiden Soeharto. Posisi tersebut memberinya akses langsung terhadap dinamika pengambilan keputusan di tingkat tertinggi negara.

Memasuki pertengahan 1980-an, Try Sutrisno memimpin TNI Angkatan Darat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Beberapa tahun kemudian, ia mencapai puncak struktur militer dengan menjabat Panglima ABRI periode 1988–1993. Dalam posisi itu, ia mengendalikan arah kebijakan pertahanan dan keamanan nasional sekaligus memperkuat pengaruh militer dalam pemerintahan.

Fase Penuh Dinamika

Ketika menduduki kursi wakil presiden pada 1993–1998, Try Sutrisno menghadapi fase penuh dinamika. Situasi politik dan ekonomi nasional bergerak cepat hingga akhirnya Indonesia memasuki pusaran krisis besar pada 1998. Masa jabatannya berada tepat di ambang perubahan besar yang kemudian melahirkan era reformasi.

Latar belakang militernya menjadikannya salah satu wakil presiden terakhir dari generasi perwira aktif sebelum reformasi membuka babak baru dalam relasi sipil dan militer. Pada masa itu, militer memegang peran sentral dalam tata kelola negara.

Setelah mengakhiri masa tugas pada 1998, Try Sutrisno tetap aktif di berbagai organisasi purnawirawan dan forum kebangsaan. Ia konsisten menyuarakan isu pertahanan, persatuan nasional, serta nilai-nilai kebangsaan dalam berbagai diskusi publik.

Jejak kariernya memperlihatkan kesinambungan antara disiplin militer dan peran politik di level tertinggi. Dari medan operasi hingga Istana, Try Sutrisno mencatatkan namanya dalam perjalanan sejarah kepemimpinan Indonesia.

(Jingga Sonjaya)

spot_img

Berita Terbaru