spot_imgspot_img
Minggu 1 Maret 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Coklat Kita Silatusantren Ramaikan Ramadan di Pesantren Darussalam Ciamis

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Ramadan 1447 Hijriah menjadi momentum istimewa bagi Coklat Kita untuk kembali menjalin kedekatan dengan dunia pesantren. Melalui program lanjutan Coklat Kita Silatusantren, perusahaan ini mengawali rangkaian kegiatan bertema “Nikmatnya Ramadan” di Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, Sabtu (28/2/2026).

Silatusantren 2026 tidak berhenti di Ciamis. Setelah agenda pembuka, kegiatan berlanjut ke Pondok Pesantren Al Hikamussalafiyah Cipulus pada 5 Maret 2026 dan ditutup di Pondok Pesantren Al Ittihad Cianjur pada 7 Maret 2026.

Baca Juga: Kanopi Rumah di Karangpaninggal Ciamis Ambruk

Dakwah, Seni, dan Kebersamaan dalam Satu Panggung

Di lokasi perdana, Coklat Kita menghadirkan rangkaian kegiatan yang memadukan kepedulian sosial, edukasi, dan hiburan. Panitia membagikan takjil serta hidangan berbuka puasa, lalu menggelar talkshow inspiratif bersama Zastrouw Al Ngatawi, Budi Setiawan atau Budi Dalton, serta ulama setempat Fadlil Yani Ainusyamsi.

Acara yang dipandu Prima Ramadhan dan Bhatara Sena Sunandar ini ditutup dengan lantunan salawat bersama Ai Khodijah and Friend, menciptakan suasana religius sekaligus hangat.

Pesantren sebagai Pusat Ketahanan Budaya

Budi Dalton menilai Silatusantren tidak sekadar menjadi ajang temu, tetapi juga ruang belajar sosial bagi santri. Ia menekankan pentingnya kesadaran diri sebagai fondasi pembentukan karakter, selaras dengan nilai pesantren yang mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Sementara itu, Zastrouw Al Ngatawi melihat pesantren sebagai sumber utama “vaksin kultural” di tengah derasnya arus budaya global. Menurutnya, Silatusantren berhasil menghidupkan kembali nilai, tradisi, dan sistem sosial pesantren. Tujuannya agar dapat diwariskan kepada generasi muda secara relevan dan kontekstual.

Seni Budaya sebagai Perekat Umat

Pimpinan Pesantren Darussalam Ciamis, KH. Dr. Fadlil Yani Ainusyamsi, menegaskan bahwa seni dan budaya memiliki peran strategis dalam dakwah, terutama bagi generasi muda. Ia menyebut kolaborasi dengan Coklat Kita sebagai bukti keterbukaan pesantren terhadap pendekatan kreatif tanpa meninggalkan nilai keislaman.

Menurutnya, pesantren tidak hanya menjadi ruang belajar kitab klasik, tetapi juga wadah pengembangan seni budaya Islam. Dukungan Coklat Kita membuka ruang kolaborasi yang lebih luas sehingga kegiatan semacam Silatusantren dapat terus berlanjut.

Alasan Ciamis Jadi Titik Awal

Perwakilan Coklat Kita, Yudi Wate Angin, menjelaskan pemilihan Pesantren Darussalam sebagai lokasi pembuka karena pengaruh dan jejaring luas pesantren tersebut di Jawa Barat. Ia juga mengapresiasi para tokoh dan alumni Darussalam yang aktif menjalin kolaborasi lintas pesantren dan perguruan tinggi.

Silatusantren 2026 terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan Ramadan. Selain memperkuat kebersamaan santri, kegiatan ini juga menumbuhkan kepedulian sosial melalui aksi berbagi dan buka puasa bersama.

Antusiasme Santri

Dari kalangan santri, Doni Rizwanto mengaku antusias mengikuti Silatusantren. Ia menilai kegiatan seni budaya sejalan dengan tradisi pesantren yang telah lama mengajarkan marawis, puisi, dan musikalitas.

Hal serupa diungkapkan santriwati Kayla Azka Nadhifah. Ia menilai Silatusantren selalu menghadirkan konsep acara yang segar dan relevan. Terutama karena pendekatan dakwah melalui musik religi telah menjadi ciri khas Pesantren Darussalam.

(Ageng)

spot_img

Berita Terbaru