spot_imgspot_img
Senin 23 Februari 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pemkot Bandung Percepat Pengolahan Sampah Mandiri Hingga 500 Ton Per Hari

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Kota Bandung menghadapi tantangan berat dalam pengelolaan sampah harian. Lonjakan limbah rumah tangga yang tidak sebanding dengan kapasitas pembuangan akhir mendorong pemerintah kota mempercepat penguatan sistem pengolahan sampah berbasis teknologi dan partisipasi warga.

Setiap hari, Kota Bandung memproduksi sekitar 1.500 ton sampah. Pembatasan pengiriman ke TPA Sarimukti memaksa pemerintah kota mengolah sampah secara mandiri dalam jumlah lebih besar. Saat ini, kapasitas pengolahan baru mencapai sekitar 300 ton per hari, sehingga masih tersisa kurang lebih 200 ton sampah yang membutuhkan penanganan cepat melalui skema terpadu.

Baca Juga: Lebih dari 31 Ribu ASN Ikuti Pengembangan Kompetensi Terpadu di Jabar

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan. Pemerintah kota memilih memadukan berbagai metode pengolahan, terutama untuk sampah organik yang volumenya paling dominan.

“Tidak mungkin satu teknologi mampu menyelesaikan seluruh persoalan sampah. Karena itu, kami menerapkan berbagai pendekatan, khususnya untuk sampah organik,” ujar Farhan.

Regulasi Diperkuat, Infrastruktur Digenjot

Pemerintah Kota Bandung memulai penguatan pengelolaan sampah dari pembenahan regulasi dan kebijakan daerah sebagai landasan sistem pengolahan terpadu. Di sisi lain, pemerintah juga memperluas pembangunan infrastruktur pengolahan dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pengelola kebersihan agar sistem berjalan lebih efektif.

Pengelolaan sampah berbasis masyarakat menjadi salah satu pilar utama. Model ini terlihat pada TPS 3R Rakomala yang dikelola langsung oleh kelompok warga. Pendekatan tersebut dinilai mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif terhadap kebersihan lingkungan.

Namun hingga kini, baru sekitar 30 persen RW di Kota Bandung yang memiliki sistem pengolahan sampah mandiri. Total pengolahan masih berada di bawah 40 ton per hari, jauh dari target 500 ton sampah yang harus tertangani di dalam kota.

Gaslah, Kang Pisman, hingga Buruan Sae

Untuk mempercepat pengelolaan dari tingkat rumah tangga, Pemkot Bandung meluncurkan program Gaslah. Program ini menempatkan petugas pemilah sampah di setiap RW untuk mengedukasi warga agar memilah sampah sejak dari sumbernya.

Program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) juga terus menguat. Inisiatif ini berjalan seiring dengan pengembangan urban farming melalui Buruan Sae dan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat). Pemerintah membangun rantai ekonomi sirkular dengan mengolah sampah organik menjadi kompos untuk mendukung pertanian perkotaan.

“Inilah strategi utama kami tahun ini. Sampah harus selesai dari hulunya,” tegas Farhan.

Selain itu, pemerintah kota mulai menerapkan teknologi bioaktivator untuk mempercepat proses penguraian sampah organik. Farhan menyebut teknologi ini mampu mengurangi bau dan populasi lalat, meski masih berada pada tahap uji coba.

Target 500 Ton, Partisipasi Warga Jadi Kunci

Pemkot Bandung menargetkan pengolahan 500 ton sampah di dalam kota dapat tercapai paling lambat akhir semester pertama tahun ini. Penegakan hukum terhadap pelanggaran pembuangan sampah tetap berjalan, namun pemerintah menempatkan pendekatan persuasif dan peningkatan kesadaran masyarakat sebagai strategi utama.

“Karena sampah di Kota Bandung berasal dari kita sendiri, maka kita pula yang harus bertanggung jawab,” ujar Farhan.

Pemerintah berharap kesadaran kolektif warga menjadi fondasi kuat bagi pengelolaan sampah jangka panjang yang berkelanjutan.

(Jingga Sonjaya)

spot_img

Berita Terbaru