PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Berkah Ramadan terasa nyata bagi Nana Priatna (52), warga Desa Bojongsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Melalui ketekunan mengolah buah aren, ia menghidupkan dapur produksinya dengan kolang-kaling yang banyak diburu untuk menu berbuka puasa.
Setiap pagi, Nana mendatangi kebun aren milik warga. Ia membeli buah yang telah disepakati sebelumnya, lalu merebusnya menggunakan kayu bakar di halaman rumah. Proses tradisional itu terus ia pertahankan demi menjaga cita rasa dan kualitas kolang-kaling.
Baca Juga: Hati-hati, Aksi Pencurian di Pangandaran Incar Rumah Saat Shalat Tarawih
Bersama beberapa tetangga, Nana mengolah buah aren menjadi kolang-kaling pilihan. Aktivitas tersebut ia jalani tanpa jeda, terutama selama Ramadan. Lonjakan permintaan membuat dapurnya nyaris tak pernah sepi.
“Setiap hari saya produksi. Saat Ramadan, pesanan naik cukup terasa berbanding dengan hari biasa,” ujar Nana, Minggu (22/2/2026).
Ia mengakui, sebelum Ramadan omzet penjualan sempat menurun. Namun memasuki bulan puasa, pesanan kembali mengalir deras. Harga jual pun ikut menyesuaikan. Jika hari biasa kolang-kaling dijual sekitar Rp8 ribu per kilogram, saat Ramadan harganya naik menjadi Rp10 ribu per kilogram.
Dalam satu hari, Nana mampu memproduksi hingga 50 kilogram kolang-kaling. Meski demikian, ia menghadapi tantangan besar dari sisi bahan baku. Harga pohon aren melonjak tajam. Dari semula Rp50 ribu per pohon, kini mencapai Rp100 ribu saat Ramadan.
“Sekarang bahan baku agak sulit. Pohon aren mulai jarang. Kalau ada pun harganya mahal,” ungkapnya.
Sumber Penghidupan yang Dijaga dengan Kerja Keras dan Rasa Syukur
Kelangkaan aren memaksa Nana lebih aktif mencari pasokan agar produksi tetap berjalan. Meski tantangan kian berat, semangatnya tak surut. Baginya, kolang-kaling menjadi sumber penghidupan yang harus ia jaga dengan kerja keras dan rasa syukur.
Produk olahannya terpasarkan ke berbagai wilayah, mulai dari Pangandaran hingga Cilacap, Jawa Tengah. Jaringan pelanggan setia yang ia bangun sejak lama membuat usahanya tetap bertahan dan berkembang.
“Alhamdulillah, rezeki dari alam cukup untuk menyambung hidup. Yang penting mau terus bekerja,” tutup Nana, yang kini mencatatkan omzet hingga puluhan juta rupiah.
(Sajidin)


