spot_img
Rabu 18 Februari 2026
spot_img

Memahami Perbedaan Shalat Tarawih 11 dan 23 Rakaat

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Memasuki bulan Ramadan, shalat Tarawih menjadi salah satu ibadah yang paling di nantikan umat Islam.

Namun di berbagai masjid, pelaksanaannya sering kali berbeda dalam jumlah rakaat. Yakni, 11 dan 23 rakaat.

BACA JUGA:

10 Persiapan Penting Menyambut Hari Pertama Puasa Ramadan

Tarawih merupakan shalat sunnah yang di lakukan pada malam hari setelah Isya selama Ramadan.

Ibadah ini menjadi bagian penting dalam menghidupkan suasana bulan suci melalui shalat berjamaah dan amalan tambahan.

Perbedaan rakaat Tarawih kerap memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Meski begitu, variasi ini sebenarnya sudah di kenal sejak masa awal Islam dan memiliki dasar dalam praktik para ulama serta sahabat.

Tarawih dengan 11 rakaat umumnya terdiri dari 8 rakaat shalat Tarawih dan 3 rakaat witir.

Praktik ini merujuk pada riwayat yang menyebut Rasulullah SAW melaksanakan shalat malam tidak lebih dari 11 rakaat. Baik di Ramadan maupun di luar Ramadan.

Sementara itu, Tarawih 23 rakaat biasanya di kerjakan dalam 20 rakaat Tarawih di tambah 3 rakaat witir.

Jumlah ini sering di kaitkan dengan kebiasaan para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA ketika shalat Tarawih berjamaah mulai di laksanakan secara teratur.

Para ulama menjelaskan bahwa shalat Tarawih tidak memiliki ketentuan jumlah rakaat yang bersifat wajib. Karena itu, baik 11 maupun 23 rakaat tetap di anggap sah sebagai ibadah sunnah.

Beberapa pendapat juga menyebutkan bahwa jumlah rakaat Tarawih pada dasarnya fleksibel. Tidak hanya terbatas pada dua pilihan tersebut. Tetapi dapat bervariasi sesuai kemampuan dan kebiasaan umat.

Di Indonesia, perbedaan ini biasanya di pengaruhi oleh tradisi organisasi keagamaan maupun kebiasaan masjid setempat.

Sebagian jamaah memilih 11 rakaat karena durasinya lebih singkat. Sementara yang lain menjalankan 23 rakaat sebagai bentuk memperbanyak ibadah.

Meski berbeda dalam jumlah, inti dari Tarawih tetap sama. Yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui shalat malam Ramadan.

Kekhusyukan dan ketenangan dalam menjalankan ibadah menjadi hal yang lebih utama.

Masjid-masjid umumnya mengumumkan jumlah rakaat sebelum shalat di mulai agar jamaah dapat menyesuaikan diri.

Langkah ini juga membantu menjaga keteraturan dalam pelaksanaan berjamaah.

Ulama menekankan bahwa perbedaan rakaat Tarawih seharusnya tidak di pertentangkan secara berlebihan. Kedua praktik tersebut sama-sama memiliki dasar kuat dalam tradisi Islam.

Dengan memahami bahwa Tarawih adalah ibadah sunnah yang fleksibel, umat Islam di harapkan dapat saling menghormati perbedaan, menjaga persatuan dan fokus pada semangat Ramadan sebagai bulan ibadah dan kebersamaan.

(Jingga Sonjaya)

spot_img

Berita Terbaru