TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026, Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya menyiapkan langkah antisipatif guna menjaga kebersihan kota. Lonjakan aktivitas masyarakat selama bulan puasa hingga Lebaran berpotensi meningkatkan volume sampah secara signifikan.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kota Tasikmalaya, Ferry Arif Maulana, memprediksi volume sampah akan naik sekitar 5 hingga 10 persen dibanding hari biasa. Ia menyebut peningkatan tersebut sebagai pola tahunan yang selalu terjadi menjelang hari besar keagamaan.
Baca Juga: Sambut Ramadan 2026, Kodim 0612/Tasikmalaya Gelar Aksi Bersih Masjid
“Kami sudah memetakan titik rawan lonjakan sampah. Pusat keramaian seperti kawasan Dadaha dan Pasar Cikurubuk menjadi prioritas pengawasan agar TPS tidak overload,” ujar Ferry, Rabu (18/2/2026).
Ia menjelaskan, tradisi ngabuburit, buka puasa bersama, hingga munculnya pasar tumpah dadakan mendorong peningkatan timbulan sampah, terutama di area publik dan pasar tradisional.
Selain pusat keramaian, DLH juga mengantisipasi dampak arus mudik dan arus balik Lebaran. Mobilitas masyarakat di jalur protokol biasanya memicu penumpukan sampah di titik-titik perlintasan dan area singgah.
Terapkan Sistem Lembur dan Tambah Durasi Operasional
Untuk merespons kondisi tersebut, DLH menerapkan sistem kerja lembur bagi petugas kebersihan. Personel akan bekerja di luar jam reguler guna menyisir lokasi strategis yang berpotensi mengalami penumpukan sampah.
DLH juga menambah durasi operasional armada pengangkut sampah. Frekuensi pengangkutan diperpanjang agar sampah tidak menumpuk terlalu lama di TPS.
Ferry memastikan armada yang tersedia dalam kondisi siap operasi. Tahun lalu, DLH melakukan peremajaan sejumlah unit truk kontainer guna mendukung pelayanan kebersihan yang lebih optimal.
“Kami maksimalkan semua sumber daya yang ada supaya pelayanan tetap berjalan lancar,” tegasnya.
Dorong Kesadaran Warga Lewat Gerakan “Sampah Jadi Sumber Sedekah”
Selain mengandalkan kekuatan teknis, DLH menekankan pentingnya partisipasi masyarakat. Ferry mengajak warga untuk mulai memilah sampah dari rumah dan tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai atau lahan kosong.
Ia mengusung semangat “Sampah Jadi Sumber Sedekah” sebagai gerakan kolektif selama Ramadan. Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk atau ekoenzim, sedangkan sampah anorganik bisa disalurkan melalui bank sampah.
Menurutnya, kebersihan lingkungan tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah. Kolaborasi antara warga dan pemerintah menjadi kunci mewujudkan kota yang bersih dan nyaman selama Ramadan.
“Ramadan harus menjadi momentum memperkuat kepedulian terhadap lingkungan. Mari jadikan kebersihan sebagai bagian dari ibadah,” pungkas Ferry.
(Abdul)



