GAYA HIDUP, FOKUSJabar.id: Budaya maskulinitas telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial pria di Indonesia. Nilai-nilai seperti ketegasan, tanggung jawab, dan kekuatan sering dipandang sebagai identitas utama laki-laki.
Namun, dalam praktiknya, standar tersebut tidak selalu membawa dampak positif. Ketika maskulinitas di pahami secara sempit dan ekstrem, muncul pola yang di kenal sebagai toxic masculinity.
Fenomena ini merujuk pada tuntutan sosial yang mendorong pria untuk selalu terlihat kuat, dominan. Dan menekan sisi emosionalnya, bahkan ketika hal itu justru membebani diri sendiri.
Dalam berbagai kajian sosial, toxic masculinity kerap muncul lewat stereotip bahwa laki-laki tidak boleh menangis. Tak pantas menunjukkan kelemahan, serta harus selalu tampak tangguh di hadapan orang lain.
Tekanan ini membuat banyak pria merasa harus memenuhi citra tertentu agar di terima lingkungan. Akibatnya, ekspresi emosi dan kerentanan sering di anggap sebagai sesuatu yang memalukan.
Fenomena tersebut juga banyak di temukan dalam kehidupan mahasiswa dan kelompok muda. Di mana standar maskulin tertentu dapat memengaruhi cara mereka bersikap, bergaul, dan menilai diri sendiri.
Bahkan sejak usia dini, pola pikir ini mulai terbentuk melalui pengasuhan dan lingkungan sosial. Anak laki-laki sering di arahkan untuk lebih dominan, sementara kelembutan di anggap tidak sesuai dengan identitas pria.
Dalam Hubungan Sosial
Dampaknya tidak hanya terasa dalam hubungan sosial, tetapi juga pada kesehatan mental. Tekanan untuk selalu kuat dapat memicu stres, kecemasan, hingga perasaan terisolasi.
Dalam beberapa kasus, dorongan untuk mempertahankan citra maskulin juga berkaitan dengan perilaku agresif. Karena emosi yang terpendam tidak tersalurkan secara sehat.
Selain itu, pola maskulinitas toksik dapat memengaruhi relasi interpersonal, seperti munculnya sikap posesif, kontrol berlebihan, atau konflik dalam hubungan.
Para peneliti menilai persoalan ini bukan sekadar masalah individu, melainkan bagian dari budaya patriarkal. Yang masih kuat dan terus di wariskan secara sosial.
Meski begitu, meningkatnya kesadaran tentang kesehatan mental dan kesetaraan gender. Mulai membuka ruang bagi pemahaman maskulinitas yang lebih sehat, inklusif, dan manusiawi.
(Jingga Sonjaya)



