BANDUNG, FOKUSJabar.id: Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, suasana kota maupun rumah-rumah biasanya berubah lebih semarak.
Salah satu ciri yang paling mudah di kenali adalah dominasi warna merah yang terlihat hampir di setiap sudut. Mulai dari pintu rumah hingga pusat perbelanjaan.
BACA JUGA:
Tradisi Yusheng dalam Perayaan Imlek dan Simbol Keberuntungan
Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, merah bukan hanya di pilih karena mencolok dan meriah. Warna ini telah lama di anggap membawa pesan simbolik yang berkaitan dengan harapan baik, kebahagiaan dan keberuntungan saat memasuki tahun yang baru.
Penggunaan merah juga mencerminkan keyakinan budaya yang di wariskan lintas generasi.
Banyak keluarga masih mempertahankan dekorasi berwarna merah sebagai bagian dari persiapan penting sebelum hari perayaan tiba.
Secara historis, warna merah di percaya mampu mengusir energi negatif dan melindungi rumah dari kesialan.
Karena itu, elemen merah menjadi bagian utama dalam berbagai bentuk hiasan dan perlengkapan Imlek.
Selain itu, merah memiliki keterkaitan dengan konsep unsur api dalam ajaran lima unsur atau Wu Xing.
Api melambangkan kehidupan, semangat serta perubahan. Sehingga di anggap selaras dengan momen pergantian tahun.
Dekorasi Imlek kemudian berkembang menjadi simbol visual yang bukan hanya memperindah. Tetapi juga memuat doa dan harapan.
Beberapa bentuk hiasan merah yang paling umum di jumpai antara lain, Lampion merah yang sering di gantung di depan rumah atau ruang publik untuk menghadirkan suasana hangat sekaligus melambangkan terang dan rezeki.
Kuplet merah, berupa tulisan doa atau harapan yang di tempel di sisi pintu sebagai simbol kesehatan dan kesuksesan.
Karakter (fu) yang berarti berkah atau keberuntungan. Kerap di tempel terbalik sebagai simbol bahwa keberuntungan sedang “datang.”
Hiasan kertas bermotif, seperti bunga atau hewan simbolik biasanya di pasang di jendela untuk menambah nuansa keberuntungan.
Keempat elemen tersebut menjadi dekorasi yang paling sering di gunakan karena mudah di kenali sekaligus sarat makna budaya.
Bagi masyarakat yang merayakan, pemasangan dekorasi merah bukan sekadar rutinitas tahunan. Melainkan bentuk penghormatan pada tradisi keluarga.
BACA JUGA:
Dompet Tipis? Ini Strategi Liburan Saat Long Weekend 14–17 Februari
Di ruang-ruang publik, warna merah juga berfungsi memperkuat atmosfer perayaan. Sekaligus menunjukkan identitas budaya yang tetap hidup di tengah modernisasi.
Hingga kini, dekorasi merah dalam Imlek masih di pertahankan karena di anggap mewakili doa kolektif. Yakni, kehidupan yang lebih baik, penuh keberuntungan dan kebahagiaan.
Dengan begitu, warna merah dalam perayaan Imlek bukan hanya soal estetika. Tetapi juga simbol harapan yang terus di wariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
(Jingga Sonjaya)



