spot_img
Jumat 13 Februari 2026
spot_img

Menjaga Suara yang Tak Lekang Waktu: Radio Antik Hidup Kembali dalam Bandung Kota Cerita

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Suara statis halus sesekali terdengar dari sebuah radio tua berbahan kayu, seakan membawa pengunjung kembali ke masa ketika berita dan hiburan mengalir melalui gelombang udara.

Di tengah perkembangan teknologi digital yang serba cepat, puluhan radio antik hadir dalam sebuah pameran yang mengajak masyarakat menyusuri jejak sejarah penyiaran.

BACA JUGA:

Ramadan 2026, Pemkot Bandung Perketat Patroli Hiburan Malam dan Tertibkan PMKS

Pameran radio antik ini menjadi bagian dari program Pemerintah Kota Bandung, Bandung Kota Cerita, yang kini memasuki pelaksanaan keempat sejak pertama kali di gelar pada triwulan ke empat tahun 2025.

Bertepatan dengan peringatan Hari Radio Dunia, tema literasi radio di pilih sebagai upaya menghadirkan ruang refleksi sekaligus edukasi tentang perjalanan media yang pernah menjadi pusat komunikasi masyarakat.

Sekitar 50 koleksi radio di pamerkan dengan rentang produksi mulai dari tahun 1901 hingga 1956. Setiap perangkat bukan sekadar benda koleksi, melainkan saksi perkembangan zaman.

Ada radio produksi Eropa dari Jerman dan Belanda, berdampingan dengan radio merek Ralin (Radio dan Listrik Negara) yang merekam jejak industri dalam negeri.

Bagi sebagian pengunjung, pengalaman ini terasa personal. Bentuk klasik dengan tombol analog dan speaker besar mengingatkan pada masa ketika keluarga berkumpul mendengarkan siaran berita atau sandiwara radio.

Radio bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga ruang kebersamaan.

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Dewi Kaniasari menilai, kegiatan ini sebagai langkah menghadirkan dialog antara kearsipan pemerintah, komunitas radio serta pelaku industri penyiaran.

BACA JUGA:

Duraking Airforce Run 2026 Suguhkan Pengalaman Lari Rasa Militer

Melalui kolaborasi dengan komunitas radio antik, museum dan kolektor, pameran ini di harapkan mampu memperkuat literasi masyarakat sekaligus menjaga ingatan kolektif tentang sejarah media.

Menariknya, beberapa radio antik juga tersedia untuk di jual. Harga yang di tawarkan bervariasi. Bahkan mencapai puluhan juta rupiah. Tergantung kondisi fisik serta nilai historis yang melekat pada setiap unit.

Pameran berlangsung hingga hari Minggu dan di buka gratis untuk umum mulai pukul 10.00-20.00 WIB.

Di tengah dominasi layar digital, kehadiran radio-radio lawas ini menjadi pengingat bahwa suara pernah menjadi penghubung utama antarmanusia. Sederhana namun penuh makna.

(LIN)

spot_img

Berita Terbaru