spot_img
Jumat 13 Februari 2026
spot_img

Kontroversi Proxy Kowtow di China Soroti Benturan Tradisi dan Ekonomi Gig Jelang Tahun Baru Imlek

CHINA, FOKUSJabar.id: Perayaan Tahun Baru Imlek di China biasanya identik dengan momen pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga.

Namun tahun ini, sebuah layanan digital justru memunculkan perdebatan baru tentang batas antara tradisi dan komersialisasi.

BACA JUGA:

China Buka Suara Soal Rencana Pertemuan Trump dan Xi Jinping

Kontroversi bermula ketika sebuah ritual penghormatan yang selama ini di lakukan secara langsung kepada orang tua di anggap berubah menjadi sesuatu yang bisa “di pesan” lewat aplikasi.

Peristiwa ini menarik perhatian luas karena Imlek bukan sekadar perayaan tahunan. Namun juga simbol penting dalam menjaga hubungan keluarga serta nilai bakti kepada generasi yang lebih tua.

Sebuah platform layanan kerja lepas bernama UU Paotui meluncurkan paket khusus menjelang Festival Musim Semi.

Paket itu menawarkan jasa pekerja yang dapat melakukan ritual membungkuk atau kowtow kepada kerabat lansia atas nama pelanggan.

Layanan tersebut tidak hanya soal membungkuk. Tetapi juga mencakup pengiriman hadiah, penyampaian ucapan selamat hingga opsi siaran langsung agar pengguna dapat menyaksikan prosesi dari jarak jauh.

Paket yang paling banyak di sorot di sebut berdurasi sekitar dua jam dengan biaya mencapai 999 yuan, menjadikannya salah satu layanan premium yang ditawarkan aplikasi tersebut.

Tak butuh waktu lama, promosi layanan ini menyebar luas di media sosial China. Reaksi publik pun beragam. Namun kritik mendominasi percakapan online.

BACA JUGA:

Duh! 250 Restoran dan Kafe di Singapura Tutup Tiap Bulan

Banyak warganet menilai penghormatan kepada orang tua seharusnya bersifat personal. Bukan tindakan simbolik yang bisa di gantikan orang lain dengan bayaran tertentu.

Nilai filial piety atau bakti keluarga menjadi pusat perdebatan. Sejumlah pengguna media sosial menganggap ritual tersebut kehilangan makna jika di lakukan melalui perantara.

Meski begitu, ada pula yang melihat fenomena ini sebagai bagian dari gaya hidup modern. Di mana layanan proxy semakin sering di gunakan untuk berbagai kebutuhan praktis.

Layanan perantara sendiri berkembang pesat di China. Mulai dari menemani ke rumah sakit, menunggu antrean hingga pekerjaan rumah tangga.

Namun ketika memasuki ranah tradisi keluarga, respons masyarakat menjadi jauh lebih sensitif.

Setelah gelombang kritik terus membesar, UU Paotui akhirnya menarik layanan kowtow tersebut dari aplikasinya.

Perusahaan juga di laporkan memberikan pengembalian dana penuh dan kompensasi tambahan bagi pelanggan yang sempat memesan.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana perkembangan ekonomi digital dapat berbenturan dengan nilai tradisional. Terutama ketika menyangkut hubungan keluarga yang masih di jaga kuat dalam budaya China.

(Jingga Sonjaya)

spot_img

Berita Terbaru