PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Usia senja tidak membuat Uuk Rukaenah (65) dan suaminya, Saedin (70), berhenti berjuang. Pasangan lansia asal Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran ini masih mengandalkan tenaga sendiri untuk bertahan hidup.
Setiap pagi, keduanya berangkat bersama meninggalkan rumah sederhana mereka. Jika tidak membantu di sawah milik orang lain, mereka menyusuri kebun untuk mencari daun kelapa. Dari daun-daun itu, Uuk dan Saedin mengolahnya menjadi sapu lidi.
Baca Juga: Ziarah Massal di Karang Sari, Tradisi Religius yang Terus Hidup di Pangandaran
Tangan renta mereka mengikat satu per satu lidi hingga rapi, lalu menjualnya seharga Rp1.800 per ikat.
“Kalau tidak ke sawah, kami cari daun kelapa ke kebun orang untuk dijadikan sapu lidi,” ujar Uuk, Kamis (12/2/2026).
Dalam kondisi tubuh yang fit, mereka mampu menghasilkan 9 hingga 10 ikat per hari. Namun ketika badan terasa lelah atau sakit, jumlah produksi menurun drastis. Pendapatan pun ikut menyusut.
“Kalau lagi kurang sehat, hasilnya berkurang. Mencari Rp100 ribu itu susah sekali,” tuturnya.
Untuk mengumpulkan Rp100 ribu, mereka membutuhkan waktu sekitar 10 hari, bahkan lebih. Uang tersebut mereka gunakan untuk membeli kebutuhan pokok yang harganya terus naik.
“Harga sekarang mahal, bumbu dapur juga. Garam saja kami beli yang paling murah,” katanya pelan.
Kehidupan mereka jauh dari kemewahan. Setiap hari, Uuk dan Saedin hanya memikirkan satu hal: bagaimana dapur tetap mengepul. Bagi keduanya, bisa makan setiap hari sudah menjadi nikmat yang patut disyukuri.
Meski hidup dalam keterbatasan, pasangan ini tidak tenggelam dalam keluhan. Mereka memilih tetap bekerja dan menjaga semangat.
“Kalau mengeluh, kami malah tidak bisa makan. Jadi harus tetap semangat. Harapannya semoga harga lidi bisa naik,” ucap Uuk.
Di balik kerutan wajah dan langkah yang mulai melambat, Uuk dan Saedin menyimpan keteguhan yang jarang terlihat—bertahan dalam sunyi, bekerja tanpa henti, demi sekadar menyambung hidup.
(Sajidin)



