spot_img
Rabu 11 Februari 2026
spot_img

Bursa Capres 2029 Mulai Menghangat, Dedi Mulyadi Masuk Radar Nasional

NASIONAL,FOKUSJabar.id: Dinamika politik menuju Pemilihan Presiden 2029 mulai mengemuka lebih cepat dari perkiraan. Sejumlah tokoh nasional hingga kepala daerah mulai masuk dalam percakapan publik sebagai figur potensial untuk kontestasi lima tahunan tersebut.

Salah satu nama yang mencuri perhatian ialah Dedi Mulyad. Basis dukungan kuat di Jawa Barat mendorong namanya masuk dalam radar kandidat yang dinilai memiliki peluang di tingkat nasional.

Baca Juga: Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Turunkan Biaya Haji Lewat Pembangunan Kampung Haji

Fenomena ini menunjukkan peningkatan peran tokoh daerah dalam peta politik nasional. Publik kini tidak hanya melirik elite pusat, tetapi juga mempertimbangkan pemimpin dengan rekam jejak kuat di wilayahnya.

Indonesian Public Institute (IPI) memperkuat gambaran tersebut melalui survei terbaru terkait preferensi calon presiden 2029. Tim peneliti menggelar survei pada 30 Januari hingga 5 Februari 2026 dengan melibatkan 1.241 responden berusia 17 hingga 65 tahun di 35 provinsi.

IPI menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error ±2,78 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Hasilnya memberikan potret awal mengenai tokoh-tokoh yang mulai mendapat perhatian publik.

Dalam daftar sepuluh besar, KDM meraih elektabilitas 7,9 persen. Angka tersebut menempatkannya dalam persaingan ketat bersama sejumlah figur nasional.

Figur Nasional

Pramono Anung mencatatkan elektabilitas 7,8 persen, disusul Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dengan 7,5 persen. Sementara itu, Anies Baswedan mengungguli tipis dengan capaian 8,5 persen. Beberapa nama lain dari kalangan menteri dan kepala daerah turut mengisi daftar tersebut.

Peneliti IPI melihat kecenderungan publik yang mulai memberi ruang bagi pemimpin dengan kedekatan sosial dan pengalaman memimpin di daerah. Faktor rekam jejak dan interaksi langsung dengan masyarakat dinilai menjadi pertimbangan penting.

Meski demikian, peta ini masih sangat dinamis. Waktu yang panjang menuju 2029 membuka peluang pergeseran elektabilitas secara signifikan, seiring perubahan situasi politik nasional.

Hingga kini, KDM belum menyampaikan sikap resmi terkait kemungkinan maju dalam Pilpres 2029. Namun, kemunculan namanya dalam survei menunjukkan bahwa ruang kompetisi mulai terbuka bagi figur di luar lingkaran elite pusat.

Survei semacam ini biasanya menjadi indikator awal arah opini publik sekaligus memicu diskusi tentang siapa saja tokoh yang berpotensi tampil dalam panggung politik nasional mendatang.

(Jingga Sonjaya)

spot_img

Berita Terbaru