GARUT, FOKUSJabar.id: Organisasi Relawan Antisipasi Solidaritas Bencana (Rentan), Sekolah Sungai Cimanuk dan Wanita Binangkit Indonesia (WBI) Garut Jawa Barat (Jabar) menanam 5 ribu pohon di Kampung Cijaringao Desa Sukajaya Kecamatan Sukaresmi, Senin (9/2/2026) kemarin.
Penanaman 5 ribu pohon tersebut sebagai langkah nyata mitigasi bencana pascalongsor yang terjadi dua bulan lalu di wilayah tersebut.
BACA JUGA:
Sekolah Sungai Cimanuk Garut Tanam Pohon di Lapang Paris
Selain fokus pada penanganan lingkungan, acara tersebut juga di kolaborasikan dengan layanan kesehatan dan santunan sosial.
Sekmat Sukaresmi, Agus Soleh menyambut baik atas inisiatif yang di gagas organisasi Rentan Garut di wilayah yang secara geografis di dominasi oleh lembah dan lahan miring.
“Kami menyambut baik giat mitigasi bencana yang di kolaborasikan dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta pemberian sembako untuk anak yatim dan jompo. Kegiatan ini sangat baik sekali,” singkat Sekmat.
Ketua Rentan Garut, Agung menjelaskan, inti dari kegiatan ini adalah penanaman 5 ribu pohon di lokasi-lokasi rawan longsor.
Menurutnya, kegiatan tersebut terselenggara berkat kerja sama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Provinsi Jawa Barat dan PT PLN.
“Kami tanam bibit tanaman keras. Di antaranya, Ki Hujan atau Trembesi, Katapang Kencana, Mahoni, Manglid (Magnolia Champaca)dan Alpukat,” kata Agung.
Direktur Sekolah Sungai Cimanuk (SSC) Garut, Mulyono Khaddafi menegaskan, penanaman 5 ribu pohon adalah hasil rekomendasi dari sosialisasi mitigasi bencana yang di lakukan sebelumnya.
Dia menyebut, Kampung Cijaringao butuh vegetasi tanaman keras untuk mengikat tanah yang labil.
BACA JUGA:
Sekolah Sungai Cimanuk Garut Segera Sosialisasi Mitigasi Bencana di Teras Cimanuk
“Salah satu hasil mitigasi, lokasi longsor tersebut perlu tamanan keras untuk mengantisipasi longsor susulan,” kata Mulyono.
Mulyono mengajak seluruh masyarakat Desa Sukajaya untuk memelihara dan menjaga pohon-pohon tersebut agar tumbuh maksimal. Dengan begitu, menjadi benteng alam bagi kita semua.
10 Bangunan Terancam Terseret Longsor
Direktur SSC Garut menambahkan, pascalongsor sembilan rumah dan satu bangunan madrasah serta jalan desa penghubung Kecamatan Bayongbong-Sukaresmi kondisinya terancam tergerus longsor.

Menurutnya, di sana ada lansia dan anak-anak. Karenanya, SSC selalu menguatkan mental mereka agar tabah serta tetap siaga.
“Selama ini, Kami selalu mengautkan mereka agar tabah dan tetap siaga,” ucap Mulyono kepada FOKUSJabar, Selasa (10/2/2026).
Pihaknya berharap, pemerintah serius dalam melaksanakan mitigasi bencana. Pasalnya, langkah tersebut merupakan salah satu untuk meminimalisir kejadian yang tidak di harapkan.
“Pemerintah jangan bergerak setelah bencana terjadi. Namun harus mengantisipasi sejak dini. Salah satunya dengan mitigasi bencana,” tegas Mulyono yang juga Sekjen Ormas Gerakan Anak Sunda (GAS).
“Jika pemerintah hadir setelah kejadian, itu namanya pencitraan yang hanya menghabiskan anggaran saja. Berbeda sebelum terjadi bencana, itu lebih bagus serta lebih bermoral menyelematkan harta dan nyawa,” pungkasnya.
Hadir pada acara mitigasi bencana, Anggota DPRD Jabar, Ahab Sihabudin, Dinkes, LH, BPN, Depag, BPKAD, DKP serta tamu undangan lainnya.
(Bambang Fouristian)


