spot_img
Senin 9 Februari 2026
spot_img

HPN 2026, Dari Tasikmalaya, Koran Sunda Ini Pernah Mengguncang Hindia Belanda

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Hari ini Kota Tasikmalaya dikenal luas sebagai Kota Santri dan sentra kerajinan bordir. Namun jauh sebelum identitas itu melekat, kota ini pernah menjadi titik lahir salah satu surat kabar (Koran) sunda paling berpengaruh di Tanah Pasundan, bahkan gaungnya sampai ke Negeri Belanda.

Nama surat kabar itu Sipatahoenan. Lebih dari sekadar media cetak, Sipatahoenan tampil sebagai corong perlawanan, ruang intelektual, sekaligus simbol keberanian masyarakat Sunda di bawah tekanan kolonial.

Baca Juga: SMAN 11 Tasikmalaya Berdiri Megah, Akses Jalan Justru Tertutup Masalah

Sejarah Sipatahoenan tidak bisa dipisahkan dari sosok Sutisna Senjaya, atau yang lebih dikenal sebagai Abah Sutsen. Namanya kini terabadikan sebagai salah satu ruas jalan utama di Kota Tasikmalaya. Sayangnya, tak banyak yang mengetahui bahwa ia bukan hanya pejuang, melainkan juga tokoh pers yang meletakkan fondasi jurnalisme kritis di daerah ini.

Sebagai Sekretaris Jenderal Paguyuban Pasundan sekaligus guru HIS di Tasikmalaya, Abah Sutsen membawa mandat besar dari Kongres Paguyuban Pasundan di Bandung pada 1923. Ia memilih jalur tulisan untuk membangkitkan kesadaran rakyat terhadap ketidakadilan penjajahan.

Pada 20 April 1923, edisi perdana Sipatahoenan terbit dari Tasikmalaya dengan segala keterbatasannya. Redaksi menempati paviliun milik Ahmad Atmaja di Jalan Stationsweg Nomor 17, yang kini dikenal sebagai Jalan Tarumanegara. Proses cetak berlangsung di Percetakan Galunggung, tidak jauh dari rumah Abah Sutsen. Saat itu, tak satu pun pengelola menerima upah. Idealismelah yang menggerakkan roda redaksi.

Keberanian Sipatahoenan membuat pemerintah Hindia Belanda merasa terancam. Koran ini kerap menyajikan kritik tajam dan tidak segan menyuarakan keberpihakan pada perjuangan nasional. Akibatnya, Belanda dua kali membredel Sipatahoenan.

Pesan Penyemangat Inggit Garnasih

Salah satu peristiwa paling terkenal terjadi ketika redaksi memuat pesan penyemangat untuk Inggit Garnasih, istri Ir. Soekarno, saat Sang Proklamator menjalani hukuman penjara. Tulisan berkode “Sip” yang merujuk pada Soekarno berbunyi, “Ulah leutik hate sanajan Ir Soekarno keur aya di jero bui oge…”

Tulisan itu memicu kemarahan penguasa kolonial. Polisi Belanda langsung menyita seluruh plat cetak timah milik Sipatahoenan.

Meski mendapat tekanan, Sipatahoenan justru terus berkembang. Dari terbit mingguan, lalu dua kali sepekan, hingga akhirnya menjadi surat kabar harian. Pada 1939, di bawah kepemimpinan Otto Iskandar Dinata, pusat operasional Sipatahoenan pindah ke Bandung. Di kota itu, koran ini mencapai masa kejayaannya dan bahkan mampu membangun gedung dua lantai di Jalan Dalem Kaum.

Bagi generasi tua Tasikmalaya, logo Sipatahoenan dengan ejaan “OE” masih membekas kuat dalam ingatan. Koran ini bukan sekadar bacaan, melainkan alat propaganda kemerdekaan. Distribusinya menjangkau pelosok seperti Karangnunggal hanya dengan sepeda ontel, sementara pengelolaan iklan sudah berjalan profesional jauh sebelum Indonesia merdeka.

Kini, bangunan tua tempat Sipatahoenan pertama kali terbit masih berdiri di depan Kantor PWI Tasikmalaya. Warisan itu menjadi pengingat bahwa dari sebuah paviliun kecil, lahir gagasan besar yang mengguncang kekuasaan kolonial.

Sudah sepantasnya Abah Sutsen mendapat pengakuan sebagai Tokoh Pers Nasional. Di tengah derasnya arus berita digital, keberanian dan kejujuran yang ia tanamkan lebih dari seabad lalu tetap relevan sebagai kompas moral pers Indonesia hari ini.

(Abdul)

spot_img

Berita Terbaru