BANDUNG,FOKUSJabar.id: Hasil skrining kesehatan mental yang dilakukan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan kondisi yang memprihatinkan di Kota Bandung. Hampir setengah pelajar yang mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental.
Data pemeriksaan pada periode Agustus hingga Oktober 2025 mencatat, dari 148.239 siswa jenjang SD hingga SMA, sebanyak 71.433 siswa atau sekitar 48,19 persen menunjukkan indikasi gangguan mental dengan tingkat keparahan yang beragam.
Baca Juga: HomPim Play Dago Pakar Hadirkan Konsep Wisata Keluarga Terpadu di Bandung
Menanggapi temuan tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan Pemerintah Kota Bandung langsung mengambil langkah penanganan terpadu bersama pihak sekolah dan tenaga psikolog medis.
“Kementerian Kesehatan telah menginstruksikan agar setiap kelurahan membuka layanan praktik psikologi klinis melalui 12 puskesmas. Kami sudah melakukan koordinasi untuk menjalankan arahan tersebut,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung, Senin (9/2/2026).
Farhan menegaskan, penanganan siswa tidak bisa berlangsung secara serampangan. Pemerintah menyiapkan alur penanganan yang bermulai dari lingkungan sekolah melalui asesmen terstruktur.
“Proses awal harus melalui asesmen di sekolah oleh guru Bimbingan Konseling. Karena itu, kami akan memperkuat kapasitas guru BK agar mampu melakukan deteksi dan asesmen awal,” jelasnya.
Komunikasi Intensif dengan Orangtua Siswa
Setelah asesmen awal, sekolah wajib menjalin komunikasi intensif dengan orang tua siswa. Farhan menekankan pentingnya pendekatan yang tepat agar pendampingan berjalan efektif tanpa memicu kepanikan.
“Komunikasi dengan orang tua harus tersampaikan secara hati-hati. Tujuannya agar tidak muncul penolakan atau kekhawatiran berlebihan,” katanya.
Jika asesmen awal menunjukkan indikasi gangguan yang lebih serius, sekolah akan merujuk siswa ke psikolog untuk pemeriksaan lanjutan. Psikolog kemudian menentukan kebutuhan rujukan lanjutan ke psikolog klinis di puskesmas.
“Mekanisme ini khusus bagi siswa karena berkaitan dengan perlindungan anak dan sistem sekolah,” tegas Farhan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Asep Saeful Gufron menyebutkan bahwa penguatan kesehatan mental pelajar sebenarnya telah berjalan sejak 2025 melalui berbagai program strategis.
Salah satu program yang berjalan adalah penguatan karakter dengan pendekatan bela negara yang melibatkan unsur TNI dan Polri. Program tersebut bertujuan membangun pola pikir positif, kemandirian, rasa tanggung jawab, serta ketahanan mental siswa.
“Program ini kami prioritaskan bagi siswa kelas 9 SMP karena mereka berada pada fase yang paling rentan secara psikologis,” ujar Asep.
Ia menambahkan, Disdik Kota Bandung menggandeng berbagai perangkat daerah dalam upaya ini. Penanganan kesehatan mental siswa berlangsung secara kolaboratif bersama Dinas Kesehatan, DP3A, dan Dinas Sosial.
“Persoalan kesehatan mental anak menyentuh banyak aspek. Karena itu, penanganannya harus lintas sektor dan saling terintegrasi,” pungkasnya.
(Yusuf Mugni)


