PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pangandaran menyiapkan hadiah umrah gratis bagi guru dan tenaga kependidikan (GTK) yang mampu mengharumkan daerah di tingkat nasional. Program ini menjadi bentuk nyata apresiasi pemerintah daerah terhadap dedikasi dan prestasi insan pendidikan.
Kepala Disdikpora Pangandaran, Soleh Supriadi, menyampaikan komitmen tersebut secara terbuka sebagai motivasi bagi seluruh GTK di wilayah Pangandaran. Ia menegaskan bahwa kesempatan umrah terbuka bagi siapa pun yang menorehkan prestasi nasional, tanpa memandang jabatan.
Baca Juga: Padaherang Jumlah Penduduknya Tertinggi di Kabupaten Pangandaran
“Siapa saja, baik guru maupun tenaga kependidikan, mulai dari pengawas, kepala sekolah, hingga unsur lainnya. Selama berprestasi di tingkat nasional, saya berjanji menghadiahi umrah,” ujar Soleh, Rabu (4/2/2026).
Menurut Soleh, apresiasi ini bertujuan menumbuhkan semangat berkompetisi secara sehat sekaligus mendorong peningkatan kualitas pendidikan. Ia menilai penghargaan nonmateri seperti umrah mampu menjadi dorongan moral yang kuat bagi tenaga pendidik.
Soleh juga menjelaskan bahwa pembiayaan program umrah tidak menggunakan anggaran resmi pemerintah daerah. Seluruh biaya berasal dari hasil patungan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Pangandaran.
“Kami sepakat bersama para kepala bidang, sekretariat, dan sekretaris dinas untuk iuran bersama sebagai bentuk dukungan bagi guru dan tenaga kependidikan berprestasi,” ungkapnya.
Kedisiplinan dan Profesionalisme Guru
Selain memberikan apresiasi, Soleh menekankan pentingnya kedisiplinan dan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar. Ia mengingatkan agar tidak ada lagi tenaga pendidik yang mengabaikan modul ajar maupun jam pembelajaran.
“Mulai sekarang, guru sudah harus berada di sekolah pukul 06.30 WIB dan baru diperbolehkan pulang pukul 14.00 WIB. Tidak boleh lagi ada pembelajaran yang diabaikan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan potensi terjadinya malpraktik dalam dunia pendidikan apabila guru tidak menjalankan tugas sesuai metode dan kompetensi. Soleh menilai kesalahan pendekatan pembelajaran dapat berdampak buruk bagi perkembangan peserta didik.
“Malpraktik tidak hanya terjadi di dunia kedokteran. Dalam pendidikan juga bisa terjadi. Misalnya, masalah yang dihadapi siswa tidak ditangani dengan pendekatan yang tepat,” jelasnya.
Di akhir pernyataannya, Soleh menekankan bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari keteladanan guru. Ia menilai sikap dan perilaku guru akan menjadi contoh utama bagi siswa di lingkungan sekolah.
“Bagi siswa, guru adalah orang tua kedua. Apa yang mereka lihat dan rasakan di sekolah akan membentuk karakter mereka,” pungkasnya.
(Sajidin)


