CIAMIS,FOKUSJabar.id: Upaya terpadu lintas sektor yang di lakukan Pemerintah Kabupaten Ciamis mulai menunjukkan hasil nyata.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Ciamis mencatat tren penurunan prevalensi stunting yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu menandakan efektivitas program pencegahan yang di jalankan secara berkelanjutan.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Ciamis, Eni Rochaeni menyebut, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting di Ciamis pada 2023 berada di angka 25,45 persen.
Angka tersebut turun signifikan menjadi 20,3 persen pada 2024. Sementara pada 2025, hasil pengukuran melalui Bulan Penimbangan Balita (BPB) menunjukkan prevalensi stunting sebesar 4,39 persen.
“Alhamdulillah, bukan hanya stunting, tetapi kasus wasting dan overweight juga terus menurun. Ini merupakan buah dari kerja bersama semua pihak,” ujar Eni, Selasa (27/1/2026).
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Bikin Ikan Laut Langka, Pasar Manis Ciamis Kehabisan Stok
Program Asuh dan Intervensi Terpadu
Penurunan tersebut tak lepas dari pelaksanaan Program Bapak dan Bunda Asuh yang kini telah berjalan di seluruh wilayah Kabupaten Ciamis.
Program ini di bina oleh 27 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan secara rutin di monitor serta di evaluasi oleh Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TP3S) bersama Tim Penggerak Posyandu.
Intervensi yang berjalan tidak hanya menyasar balita. Namun juga ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronis (KEK) dan anemia. Selama ini, kondisi itu menjadi faktor risiko utama terjadinya stunting.
Eni menjelaskan, penyebab stunting masih terdominasi oleh kurangnya asupan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Terutama protein hewani.
Selain itu, pola asuh yang belum optimal, minimnya variasi makanan serta sanitasi yang kurang memadai turut memperbesar risiko.
Inovasi Sepanjang Siklus Kehidupan
Dalam upaya mempercepat penurunan stunting, Pemkab Ciamis menerapkan pendekatan kesehatan sepanjang siklus kehidupan. Mulai dari remaja hingga lansia.
Untuk remaja, Dinkes Ciamis menghadirkan Sistem Informasi Kesehatan Remaja Halo Cinta (Sikeren Halo Cinta), sebuah platform digital untuk skrining kesehatan dan pembiasaan aksi bergizi. Selain itu, inovasi Setiap Rabu Bantu Cegah Anemia Remaja Putri di Ciamis (Si Ratu Manis) juga digulirkan, dengan mengajak remaja putri mengonsumsi tablet tambah darah secara serentak setiap hari Rabu.
“Bagi calon pengantin, skrining kesehatan melalui aplikasi Elsimil, lengkap dengan pemeriksaan dan konseling sebelum menikah,” jelasnya.
Gerakan Gotong Royong Gizi
Bagi ibu hamil, bayi, dan balita, Dinkes Ciamis meluncurkan Gerakan Miliaran Cinta menuju Bayi, Balita, dan Bumil Sehat, Bahagia, Penuh Cinta (GeMil Ci Bucin). Gerakan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari TP3S, TP Posyandu, TP PKK, BJB, GOW, Baznas, hingga perguruan tinggi seperti Universitas Galuh dan Stikes Muhammadiyah Ciamis.
Sebagai pendukung, terdapat pula program Celengan Hati Bucin, yakni gerakan gotong royong ASN untuk membantu pemenuhan gizi ibu hamil dengan KEK dan anemia melalui pemberian makanan bergizi.
Pemantauan Digital dan Tantangan PHBS
Pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita berjalan melalui aplikasi SGizi, sementara cakupan imunisasi dipantau menggunakan aplikasi ASIK. Seluruh laporan pelayanan KIA, gizi, dan imunisasi dikirimkan secara rutin setiap bulan ke Kementerian Kesehatan.
Meski demikian, dr. Eni mengakui masih terdapat tantangan, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Jika penerapan PHBS dapat secara konsisten di tingkat individu dan keluarga, derajat kesehatan masyarakat akan meningkat secara otomatis,” tegasnya.
Ia juga menyoroti keterbatasan akses protein hewani serta masih terdapat kasus anemia dan KEK pada calon pengantin maupun ibu hamil.
Imbauan untuk Masyarakat
Di akhir, dr. Eni mengimbau masyarakat Tatar Galuh agar aktif memanfaatkan layanan kesehatan. Ibu hamil diminta melakukan pemeriksaan kehamilan minimal delapan kali. Kemudian balita rutin datang ke posyandu setiap bulan, serta remaja membiasakan Germas, aksi bergizi, dan konsumsi tablet tambah darah. Sementara usia produktif hingga lansia harapannya dapat rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.
(Nank Irawan)


