CIAMIS,FOKUSJabar.id: Sejumlah tokoh budaya dan masyarakat di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menyatakan keberatan keras terhadap sebuah narasi yang mencuat di salah satu media daring. Tulisan tersebut menyulut emosi warga karena menyebut ibu kota Kerajaan Galuh berada di Baregbeg, bukan di Kawali.
Tokoh-tokoh Kawali menilai penyusunan narasi tersebut tanpa dasar kajian ilmiah yang memadai dan cenderung bersifat opini sepihak. Padahal, selama ini Kawali sebagai pusat Kerajaan Galuh berdasarkan berbagai literatur sejarah serta bukti-bukti otentik yang ada di lapangan.
Baca Juga: Ciamis Siap Masuk Tahap Awal Program Sekolah Rakyat
Salah seorang budayawan Kawali, Fahmi, menegaskan masyarakat Kawali tidak bisa menerima klaim yang bertentangan dengan fakta sejarah.
“Saya sebagai warga Kawali tidak menerima narasi yang menyebut ibu kota Kerajaan Galuh berada di Baregbeg. Itu bertentangan dengan kajian sejarah yang selama ini kami pahami,” ujar Fahmi, Rabu (28/1/2026).
Menurutnya, tulisan tersebut terkesan menggiring opini publik agar mempercayai sesuatu yang belum memiliki dasar keilmuan yang jelas.
“Kalau memang ada klaim bahwa Baregbeg adalah ibu kota Kerajaan Galuh, seharusnya melalui penjelasan secara ilmiah dan akademis, bukan sekadar asumsi,” tegasnya.
Diminta Tenang, Namun Kritik Dinilai Wajar
Perwakilan budayawan Ciamis, Sopyan, menilai reaksi warga Kawali merupakan hal yang wajar. Menurutnya, masyarakat tentu akan tersinggung jika identitas sejarah daerahnya dipatahkan tanpa argumen yang kuat.
“Saya kira kemarahan warga Kawali itu beralasan. Namun tetap kami imbau agar menyikapinya dengan tenang dan bijak,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa selama ini berbagai kajian dan literatur sejarah justru menguatkan posisi Kawali sebagai pusat Kerajaan Galuh.
Akademisi Ingatkan Etika Penulisan Sejarah
Akademisi sekaligus pegiat budaya Ciamis, Ilham Purwa, menekankan informasi sejarah yang layak publish harus melalui proses ilmiah yang sistematis. Ia menyebut setidaknya terdapat empat tahapan utama dalam rekonstruksi sejarah.
“Yakni heuristik atau pengumpulan sumber, kritik dan verifikasi sumber, interpretasi fakta, serta historiografi atau penulisan sejarah. Tanpa tahapan ini, data yang tersampaikan ke publik rawan menimbulkan kesalahpahaman,” jelasnya.
Ilham menambahkan, posisi Kawali sebagai pusat Kerajaan Galuh sangat kuat, karena telah melalui berbagai kajian akademis serta bukti otentik yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Ini harus menjadi catatan bagi semua pihak agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan informasi sejarah, supaya tidak melahirkan opini liar yang lemah secara akademik,” pungkasnya.
(Husen Maharaja)


