spot_img
Senin 26 Januari 2026
spot_img

Jejak Kejayaan Pacuan Kuda Dadaha Kota Tasikmalaya, Kini Tinggal Kenangan

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Kompleks Olahraga Dadaha hari ini dikenal sebagai jantung aktivitas olahraga Kota Tasikmalaya. Stadion megah, gedung basket, hingga arena bulu tangkis berdiri kokoh dan ramai oleh aktivitas atlet. Namun, jauh sebelum derap sepatu olahraga menggema, Dadaha pernah menjadi arena pacuan kuda paling bergengsi di Jawa Barat.

Bagi generasi awal abad ke-20 hingga mereka yang tumbuh di era 1980-an, Dadaha bukan sekadar ruang publik. Kawasan ini adalah pusat hiburan rakyat, tempat adu gengsi para pemilik kuda terbaik, sekaligus saksi sejarah olahraga berkuda yang pernah berjaya.

Baca Juga: Anggaran Kota Tasikmalaya 2026 “Berdarah”, Tapi Belanja Makan dan Internet Malah Meroket

Dadaha, Arena Elit dan Hiburan Rakyat

Budayawan Tasikmalaya, Tatang Pahat, mengenang Dadaha sebagai magnet sosial yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Arena pacuan kuda kala itu kerap menjadi ajang unjuk prestise kuda-kuda milik para pejabat dan bangsawan lokal (menak), namun tetap terbuka bagi masyarakat umum.

“Dulu pacuan kuda di Dadaha sangat populer. Bukan hanya hiburan, tapi juga arena adu ketangkasan kuda-kuda milik para pejabat pada zamannya,” ujar Tatang, Senin (26/1/2026).

Menariknya, sejumlah bangunan olahraga yang ada saat ini menyimpan jejak fungsi lamanya. GOR Sukapura, misalnya, dahulu digunakan sebagai area pelatihan kuda sebelum berlaga. Sementara Gedong Peteng, bangunan peninggalan kolonial Belanda, pernah difungsikan sebagai tribun VIP dengan akses khusus menuju bagian bawah yang dahulu menjadi istal kuda.

Bahkan, lokasi yang kini menjadi arena olahraga bulu tangkis dan sekitarnya dulunya merupakan hamparan padang rumput tempat kuda merumput, sekaligus menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi kuda pacu yang mati.

Lintasan Legendaris dan Nama-Nama Abadi

Dadaha juga melahirkan legenda. Nama-nama kuda seperti Semberani, Fortun, Januar, Hanter, hingga Dudut pernah menjadi idola publik. Kecepatan dan ketangguhan mereka tak lepas dari peran para joki legendaris seperti Elan, Oos, Uus, Endang, dan joki lainnya yang dikenal piawai memacu kuda dengan keberanian tinggi.

Sinergi antara kuda dan joki menghadirkan ketegangan di setiap lomba. Sorak sorai penonton yang memadati tribun kayu sederhana kala itu menjadi bagian tak terpisahkan dari atmosfer pacuan kuda Dadaha.

Redupnya Kejayaan Pacuan Kuda

Memasuki era 1980-an, kejayaan pacuan kuda Dadaha mulai memudar. Alih fungsi kawasan menjadi kompleks olahraga modern membuat lintasan pacu semakin menyempit dan akhirnya hilang.

“Sempat ada wacana pemindahan arena ke wilayah Cilembang, namun tidak sesukses Dadaha karena lintasan pacunya dianggap kurang ideal,” tutur Tatang.

Perlahan, suara derap kaki kuda tergantikan oleh pantulan bola basket dan gemuruh suporter sepak bola. Dadaha pun bertransformasi total, meninggalkan pacuan kuda sebagai bagian dari masa lalu.

Warisan yang Layak Hidup Kembali

Meski tinggal kenangan, pacuan kuda memiliki potensi besar sebagai olahraga tradisional sekaligus daya tarik wisata. Lebih dari sekadar lomba, olahraga ini mencerminkan kedisiplinan, ketangkasan, dan warisan budaya yang pernah mengharumkan Tasikmalaya di tingkat regional hingga nasional.

Revitalisasi olahraga berkuda bukan hal mustahil. Dengan dukungan pemerintah dan komunitas, semangat pacuan kuda Dadaha dapat hidup kembali dalam format modern tanpa menghilangkan nilai historisnya.

Dadaha menjadi pengingat bahwa Tasikmalaya memiliki akar olahraga yang kuat. Mengenal sejarah pacuan kuda di kawasan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya merawat identitas kota agar warisan ketangkasan itu suatu hari bisa kembali berlari, mengharumkan nama Tasikmalaya.


(Abdul)

spot_img

Berita Terbaru