CIAMIS,FOKUSJabar.id: Wacana penggantian patung Bunga Raflesia yang berdiri di pusat Alun-alun Kabupaten Ciamis mulai menuai respons positif dari berbagai kalangan masyarakat.
Usulan tersebut di nilai sebagai momentum untuk menghadirkan ikon daerah yang lebih merepresentasikan identitas dan sejarah Ciamis saat ini.
Budayawan muda sekaligus dosen Universitas Galuh (Unigal) Ciamis, Ilham Purwa, menilai patung Bunga Raflesia raksasa sudah tidak lagi relevan dijadikan simbol Kabupaten Ciamis. Pasalnya, bunga endemik tersebut secara geografis berada di wilayah Kabupaten Pangandaran yang kini telah berdiri sebagai daerah otonomi sendiri.
Baca Juga: Pemkab Ciamis Dorong Dapur MBG Segera Urus PBG, Ini Alasannya
“Pangandaran sudah resmi berpisah dari Ciamis. Karena itu, ikon Raflesia raksasa sudah kurang tepat jika tetap dipertahankan sebagai simbol utama Ciamis,” ujar Ilham, Kamis (22/1/2026).
Ia menjelaskan, saat pembangunan patung tersebut, Kabupaten Pangandaran masih menjadi bagian dari Kabupaten Ciamis. Kondisi itulah yang membuat keberadaan patung Raflesia kala itu dapat masyarakat terima. Karena memiliki keterkaitan sejarah dan fungsi promosi wisata.
“Raflesia memang tumbuh di kawasan Cagar Alam Pangandaran. Jadi pada masanya, patung itu berfungsi memperkenalkan potensi wisata wilayah selatan Ciamis,” katanya.
Namun, seiring perubahan status administratif wilayah, Ilham menilai sudah saatnya Kabupaten Ciamis melakukan redefinisi identitas visual di ruang publiknya. Ia mendorong agar pemilihan ikon daerah benar-benar mencerminkan sejarah, budaya, serta karakter masyarakat Tatar Galuh.
“Sekarang Ciamis perlu ikon yang lebih mengena secara historis dan kultural. Saya melihat patung Macan sangat tepat untuk menggantikan Raflesia,” ungkapnya.
Macan Secara Simbolik
Menurut Ilham, Macan tidak hanya kuat secara simbolik, tetapi juga memiliki keterkaitan nyata dengan wilayah Ciamis. Keberadaan macan, khususnya di kawasan hutan Gunung Sawal, masih tercatat secara ekologis, sekaligus hidup dalam memori kolektif dan filosofi masyarakat Ciamis.
“Macan itu nyata secara fisik dan sangat kuat secara filosofi. Simbol ketangguhan, keberanian, dan kearifan lokalnya sudah lama melekat di masyarakat,” jelasnya.
Ia berharap, jika rencana penggantian ikon tersebut direalisasikan, pemerintah daerah dapat melibatkan unsur sejarah, budayawan, dan masyarakat agar ikon baru Ciamis benar-benar lahir dari kesadaran bersama, bukan sekadar perubahan estetika.
(Husen Maharaja)


